Puisi
Rindu
Pemandangan ini memang tak kan pernah menjadi asing
Melukis langit di sana dengan berbagai percikan nyala
api
Bagai memucahkan segenap keriangan dalam gelap yang
pekat
Gelap, tepat pukul 01.00 dini hari mereka meluncur
bergemuruh bergantian
Untuk malam ini saja
Dan akan ada lagi setelah penghabisan satu tahun ini
Ledakannya hampir sebanding lurus dengan ledakan hati
kami yang memandangnya
Berbagai warna seperti luapannya
Entah warna itu asyik atau pahit, tiada yang mampu
menerka
Yang terlihat hanyalah wajah kami dibawahnya,
memandangnya dengan tatapan berbinar
Tapi, di sini nanar
Nanar karena sebuah kerinduan
Katakanlah kerinduan yang membunuh harapan, dan
menjelma putus asa
Menunggu dalam kerinduan yang entah kapan mampu pudar
Ku rindu kau dan dirinya
Percikan api yang ku rindukan tetap masih menyimpan
harapan
Tapi dirinya, entahlah...
Tega membiarkan kerinduan ini membusuk dalam relung
hati
Tanpa terkuap meski dengan ucapan Apa kabar?
Ma,
kapan pulang?
Yogyakarta, 01 Januari 2016

Komentar
Posting Komentar