Formasi lengkap Bu-Ibu, 1) Choong Sook (Istri Kim Taek), 2 & 3 udah tahu kan :>, 4) Lee Jung Eun (Moon Gwang as ex asisten rumah tangga keluarga Park). baca dari kanan :D
Film ini mengisahkan tentang dua keluarga yang memiliki 'keberuntungan' hidup yang berbeda. Jauh sekali kesenjangannya. Keluarga Kim yang dikepalai oleh Kim Taek harus hidup di kehidupan yang dibilang pas-pasan aja nggak bisa. Hidup di basement bawah tanah dengan keadaaan menganggur semua anggotanya. Lain hal dengan Keluarga Park yang dikepalai oleh Mr. Park dilihat layaknya keluarga bahagia dengan segala perlengkapan mewah di rumahnya.
langsung saja, aku tidak ingin menjelaskan dengan teori bla bal perfilman dimana sadar diri bahwa itu bukan kajian saya. Tapi di Review yang tak biasa ini ingin menyajikan bagaimana sebuah tontonan itu bisa dijadikan bermanfaat untuk kehidupan penontonnya. Aku namakan teladan. Mungkin besok-besok mau nulis tentang jadi konsumer digitan yang biijak. ihiiirrr...
Serunya film ini tuh terletak pada kemasannya, pengemas masalahnya. Sering dalam sebuah film tentang keluarga miskin dan kaya itu menjadi salah satu pokok cerita. Tapi, hanya difilm parasite yang memiliki pengemasan unik tingkat dewa. Begitu kentara perbedaannya. Orang miskin yang harus mati-matian berjuang dengan segala cara hanya demi mendapat kelayakan hidup dan orang kaya yang menutup diri dengan segala kelimpahannya. Ngeri sudah dua tema seperti itu diramu untuk mengaduk-aduk perasaan penontonnya.
Lanjut, ini adalah inti tulisan review tak biasa ini,
Sebagai masyarakat yang berdampingan, saling memahami adalah keharusan
Pada intinnya sebagai masyarakat yang berdampingan itu harus saling peka. Namun seringnya kita dibutakan oleh keegoisan kita sendiri. Kita menutup diri dari keadaan orang lain, enggan memahami. Orang yang diberikan kelebihan terkhususnya, akan sangat memalukan jika menutup mata dengan segala kelimpahannya. Harta melimpah dan kebahagiaan yang tak kurang satupun harusnya membuat kita lebih mampu menolong penderitaan seseorang. Secara psikologisnya nih ya (karena background ku sendiri psikologi) orang yang merasa bahagia itu memiliki perasaan tenang. Ketenangan itu membawa pada kepekaan kita untuk melihat keadaan sekitar sehingga kita akan menemui suatu hal yang menggugah hati kita. Ironinya, nggak semua orang merasa bahagia. Yang banyak adalah orang merasa senang dengan dunianya. Nah, inilah yang menutup mata hati kita. Semua itu tergantung pada kualitas individunya.
Korelasi dengan film Parasite ini, kepekaan keluarga Si kaya yang menjadi sorotan. Aku mengatakan kepolosan keluarga kaya yang seakan semua orang memiliki kesenangan yang sama. Padahal di sisinya,Keluarga Miskin (Keluarga Kim Taek) harus menghalalkan segala cara untuk kelayakan hidupnya. Ada beberapa scene dari Keluarga Park yang menyinggung kemiskinan Keluarga Kim Taek.
Layaknya kehidupan Wild Life
Kehidupan tanpa pedoman digambarkan secara gamblang dalam Film Parasite ini. Insting bertahan hidup main secara berlebihan hingga menghalalkan segala cara. Dampaknya hancur segala lini kehidupannya sampai kehilangan orang-orang yang dicintai.
Nah, pedomannya itu apa?
Kita mengenal agama bukan?
Itu adalah pedoman kehidupan. Kita bisa lihat di segala agama tercantum pedoman-pedoman sebagai manusia yang layak dimanusiakan. Itulah yang membedakan kita dengan liarnya binatang. btw, Manusia tanpa pedoman itu beda tipis keliarannya dengan binatang. Seriosly....
Dalam agama, manusia diatur secara hartanya untuk adil dalam memberlakukannya. Sampai harus menjaga perasaan Si Miskin juga jika mereka ingin bersenang-senang dengan hartanya.
Juga, agama mengatur mereka yang kekurangan dengan bersabar dan mencari harta yang halal lagi baik. Agama mengontrol sisi buruk manusia manusia seperti kerakusan, tamak, sombong, egois, dll.
Tanpa pedoman hidup, manusia akan hidup layaknya wild life. Senggol sana-sini demi makan, menghalalkan ini itu untuk bertahan hidup.
Pedoman hidup itu penting. Minum obat saja butuh pedoman apalagi menjalankan kehidupan.
Kesimpulannya adalah menaikkan kualitas diri sebagai manusia itu penting. Memanusiakan diri kita dengan pembelajaran tentang hidup, penghayatan yang baik lagi benar, serta implementasi pada diri yang ma'ruf itu penting. Semua itu untuk mengontrol diri kita dari potensi-potensi buruk manusia. Akal sebagai anugerah terpenting manusia yang membedakannya dengan binatang. Selalu turutkan kebenaran akal dan kejernihan hati dalam berpikir dan berkehidupan.
Nah, itulah review yang tak biasa ya pemirsa. Kayak gado-gado ceritanya, dari lauk-lauk renyah sampai sayuran serius. Kerasa nggak sih? :D #maksa
itulah tulisa pertama dari vakum nulis setahun...
sampai jumpa di lain kesempatan. Bye...
Yogyakarta, 01 Oktober 2019
|
Komentar
Posting Komentar