Menggagas Islam Di Nusantara
Sebelum
tulisan ini dibuat, sekitar tujuh jam yang lalu telah diselenggarakan sebuah
seminar Nasional yang berjudul “Mainstreaming Islam Nusantara” yang berlangsung
dari pukul 09.00 sampai 12.30 WIB di
gedung Convention Hall Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Seminar
mengambil tema Revitalisasi Islam Jawa di
Tengah Arus Modernitas dan Kekerasan Berbasis Agama. Seminar ini
diselenggarakan Jama’ah Nahdliyin Mataram (JNM) yang berkerjasama dengan ISAIS
UIN Sunan Kalijaga. Seminar ini dihadiri oleh tiga narasumber yakni Agus
Sunyoto, KH. Muhammad Sholihin dan Nur Kholid Ridwan selaku kapinisepuhan JNM dan dimoderatori oleh Dr. Abdul Rozaki.
Seolah
menyesuaikan dengan tema acara, seminar dibuka dengan pembacaan ayat suci Al
Qur’an yang dilantunkan dengan Langgam Jawa. Suasana saat pelantunan ayat suci
Al Qur’an bisa dibilang cukup khitmat dan mampu mengambil perhatian hampir
semua audiens. Setelah pelantunan ayat suci Al Qur’an disusul oleh sambutan
ketua penyelenggara acara. Dalam sambutannya, Ketua acara menjelaskan tujuan
diadakannya acara tersebut.
“Ingin
mempertahankan apa itu toleransi, apa itu pluralitas dan konsep Mataram Islam”
Ungkapnya.
Tidak
hanya sampai di sini, pembukaan pun berisi tentang sosialisasi sebuah
organisasi Jama’ah Nahdliyin Mataram (JNM) yang di-kapinisepuhi salah satu narasumber yakni Nur Kholid Ridwan. JNM
lahir karena ada proses kritis dari keluarnya hukum baru yang disebut ‘Sabda
Raja’. Dari terbentuknya JNM ini, diharapkan ada upaya dalam pengajian mendalam
bagaimana maksud yang terdapat pada teks ‘Sabda Raja’.
Seperti
menanggapi bagaimana problema yang kini tengah menjadi bahan pembicaraan oleh para akademisi mengenai
bagaimana paradigma dalam konsep agama khususnya Islam, Seminar ini dapat
dikatakan memberikan paradigma lain yang mampu menjadi pertimbangan dalam
memandang bagaiman Islam itu sebenarnya. Islam Jawa, istilah yang acapkali
dikeluarkan oleh ketiga narasumber. Pematik Materi pertama, Nur Kholid Ridwan
menjelaskan bagaimana problema yang sedang dihadapi oleh Islam Nusantara yakni
hegemoni dari pemikiran-pemikiran asing dan keacuh-tak-acuhan dari kalangan
masyarakat Jawa sendiri. Nur menjelaskan beberapa macam kepangklingan yang muncul dalam Islam Jawa seperti Arus Arabisasi yang begitu derasnya. Banyak
kalangan masyarakat jawa yang telah terpukau dengan kebudayaan yang telah
dibawa oleh beberapa golongan yang juga membawa paradigma tentang Islam. Faktor
lain pula ialah penempatan diri para kaum santri Jawa yang memposisikan dirinya
sebagai pengamat, yang secara tidak langsung membawa ke sebuah fenomena
pribumisasi.
Penjelasan
semakin gamblang tentang konsep Islam
Jawa yang ditambahi oleh pemateri kedua yakni Agus Sunyoto. Agus menjelaskan
bagaimana bentuk Islam Jawa itu sendiri. Penjelasannya diawali dari sebuah
sejarah bagaimana Islam bisa masuk ke dalam nusantara. Agus meragukan tentang
masuknya Islam yang dibawa oleh para pendagang Arab, karena menurutnya tidak
terdapat catatan sejarah yang jelas dalam menjelaskan hal itu.
Setelah
begitu panjang lebar bagaimana sejarah masuknya Islam di Nusantara, Agus
menjelaskan tentang konsep Islam Jawa yang selama ini dianggap tabu dan
menyalahi agama Islam itu sendiri oleh beberapa golongan. Yang menjadi titik
fokus penjelasanya ialah Kapiyatan, yakni
bentuk kepercayaan masyarakat jawa yang dari pemerintahan belanda dulu disebut
sebagai animisme dan dinamisme. Islam yang masuk dalam kebudayaan Jawa ialah Sanggar, yakni peribadatan yang
dilakukan orang-orang terdahulu dengan cara mengahadap ke gua. Menurutnya, hal
ini sama seperti yang dilakukan oleh rasulullah ketika menerima wahyu, sehingga
Agus menarik kesimpulan tiada ibadah bid’ah
yang selama ini dikatakan oleh kelompok lain dalam peribadatan seperti itu.
Konsep
kebahasaan pun disoroti oleh Agus Sunyoto. Ia menjelaskan terdapat sebuah
pergerakan revolusi yang dipelopori oleh Syeh Siti Jenar, Sunan Giri dkk yang merubah istilah perbahasaan seperti dalam
bahasa jawa menyebut diri adalah Kaula, lalu dirubah menjadi Ingsun dan bahasa
melayu seperti sahaya menjadi awak.
“Kata kaula atau Kulo itu
berarti bawahan, makanya diganti menjadi ingsun. Juga kata sahaya itu memiliki
arti yang sama bawahan atau hamba maka diganti awak” tandasnya.
Juga
terdapat beberapa istilah serapan yang dalam bahasa jawa sendiri tidak memiliki
kosakata, seperti kata sabar. Dalam closing statemenya, Agus menjelaskan
tentang konsep kematian jawa (terdapat tiga harian, tujuh harian dan sebagainya)
yang bukanlah konsep dari agama Budha ataupun Hindu melainkan dari Islam yang
dibawa oleh Sunan Ampel dari Islam Syi’ah di Campa.
Selanjutnya,
materi disampaikan oleh KH. Muhammad Sholihin. Sebagai pembukanya, Muhammad
Sholihin menjelaskan tentang problema yang kini tengah dihadapi oleh Islam jawa
yakni generasi penerus atau generasi muda sudah tidak memahami tentang Islam
Jawa serta konsepnya. Dan selanjutnya, beliau yang menjadi pembicara terakhir
yang secara otomatis menjadi penarik kesimpulan memaparkan bahwa meski terdapat
banyak budaya yang bisa kelua rmasuk di nusantara, memegang budaya sendiri dan
melestarikannya haruslah tetap menjadi prioritas. Karena bila tidak seperti
itu, kematian budaya jawa akan menjadi sebuah keniscayaan.
“
Islam itu lebih ke dimana Islam itu ada. Walaupun ada Islam tapi tetap harus
melestarikan budaya dan tradisi” ucapnya mantap.
Yogyakarta ,16 juni 2015
8.45 am

Komentar
Posting Komentar