Kisah

Wanita itu berusia 51 tahun. Ia seorang penyandang tunanetra. Kesehariannya adalah menerima pasien yang ingin pijat dengannya. Benar, beliau adalah seorang tukang pijat tunanetra. Namanya Sri Sulasti, Pemilik panti pijat tuna netra “Penyegar Selera”. Beliau tinggal di sebuah desa Gowok, Ambarukmo, Sleman, Yogyakarta. Beliau mengaku bahwa dirinya hanyalah pendatang di  Desa tersebut. Beliau adalah penduduk Kota Madya. Tepatnya di depan SMA 5.
Tentang dirinya, beliau bercerita bahwa memilki satu anak perempuan dan dirinya adalah seorang janda, tapi Suami masih ada dan menikah lagi.  Beliau tinggal di Panti Pijat tersebut bersama 4 orang. Satu anak perempuan, dan yang lain adalah teman yang ikut bekerja dengannya.
Beliau telah menggeluti profesi pijat-memijat sejak berumur dua puluh empat tahun. Semua itu berawal dari sebuah tragedi kecelakaan yang menimpanya. Sebelumnya Ibu Sri Sulasti lahir dalam keadaan normal. Namun  pada saat berumur 15 tahun, Ibu Sri Sulasti jatuh dari sepeda. Menurut dari pengakuan beliau, setelah kecelakaan tersebut beliau dibawa ke sebuah Rumah Sakit sekitar. Setelah masa perawatan tersebut, beliau merasakan ada sesuatu yang ganjal terjadi pada kondisi tubuh beliau. Beliau mengalami panas dan dingin pada tubuhnya dan hal itu berlangsung selama empat bulan. Menurut beliau, hal ini lah menjadi awal ketidakfungsian alat indera penglihatannya. Atas kesadaran ketidaknormalan tersebut, beliau menjalani pengobatan sehingga mengatarkan beliau ke ruang opersai. Beliau berkata bahwa telah menjalani operasi pada mata sampai empat kali. Namun tak membuahkan hasil, malahan kebutaan menghampiri beliau. Kedua  matanya tidak berfungsi dengan normal, malahan mata kirinya lebih ke dalam dan buta total, walaupun mata kanannya masih sedikit berfungsi, setidaknya mampu melihat tinta pada tulisan, tapi tidak untuk membaca.
Dari sini, beliau mengalami guncangan kejiawaan. Perasaan tak dapat menerima keadaan pun pernah terjadi pada beliau. Kesulitan beradaptasi pun sempat menjadi masalah yang cukup serius. Sehingga mengatarkan beliau ke sebuah tempat pelatihan orang-orang penyandang tuna netra. Panti Sosial Bina Netra (PSBN) seperti itulah beliau menyebut, Ibu Sri Sulasti menuntu ilmu di sana. Dari sanalah beliau mendapat pengajaran tentang bagaimana tunanetra biasa menjalankan aktivitasnya dan sehingga beliau pun memiliki keterampailan pijat-memijat.
Seperti yang dilansir dari subjek, beliau menceritakan bagaimana beliau menjalani aktivitasnya dalam kondisi baru tersebut. Setiap hal yang beliau lakukan menggunakan ‘perasaan’, atau lebih tepatnya instink yang perlahan terbentuk dari proses pembiasaan. Pernah suatu hari ada pelatihan memasak, karena beliau belum mampu beradaptasi dengan kondisinya sekarang, proses memasaknya pun mengalami kegagalan. Lalu ada salah seorang petugas yang  menyarankan untuk mengkira-kira waktunya. Dari situ beliau bisa mengetahui belum-sudahnya proses memasak tersebut.
Lalu untuk membedakan jalan, beliau di bantu oleh tongkat yang beliau bawa dan juga manusia sekitar yang akan membantu beliau. Dan beliau pun mampu mendeteksi kehadiran seseorang (tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, seperti suara langkah kaki) dengan bantuan indera pembau. Beliau juga mengasah sistem perabaannya yang mana begitu penting untuk menunjang profesinya sebagai tukang pijat. Dengan kemampaun inilah beliau dapat mendeteksi penyakit yang diderita Sang Pasien. Beliau berkata bahwa bentuk persendian yang bermasalah berbeda dengan persendian yang normal, hal ini dengan mudahnya dapat di deteksi oleh indera peraba.


Komentar

Postingan Populer