Cerita Pendek
Kemarau
Yang Tak Lelah Mengusik Angin
Oleh:
Neshri Diana
Sejenak
aku terkesiap dengan hembusan angin yang menelusup di balik jendela kamar ku.
Angin itu menelisik sampai di sekitar leher ku melalui terbangan mukena putih
di kala aku mendirikan sholat malam. Sedikit terperanjat memang, namun harum
angin itu yang tak pernah lupa untuk aku rindukan.
Sejak
kecil aku memang lahir sebagai pengagum angin. Mungkin karena rambut panjangku
yang senantiasa bemain dengan angin. Atau karena memang aroma anggun angin yang
selalu mengingatkan aku akan kedamaian. Pernahkah dirimu memasrahkan seluruh
badanmu terbang bersama angin dan hujan? Tentu aku pernah. Aku termasuk anak
yang beruntung yang hidup di sebuah desa indah nan permai. Desa yang tak pernah
berhenti bertamukan angin. Desa yang tak pernah sepi akan kehangatan matahari
yang memancar di elok pagi, yang selalu merayuku untuk menaiki tempat yang
lebih tinggi, dimana angin besertakan matahari yang tak pernah berhenti untuk
saling menyapa. Aku merasakan angin menerpa tubuhku yang bermandikan matahari.
Entah apa yang aku rasakan pada saat seperti itu? Aku tak mampu memberikan penjelasan
tentang elok rupanya.
Aku
tak pernah takut untuk tidak menutup jendela kamarku, seperti saat ini. Karena
aku tahu bahwa angin akan datang untuk sejenak menyapa. Sedikit aneh memang,
tapi itu apa adanya. Tepat pukul 02.30, aku tak pernah melewatkannya untuk
sekedar sadar dalam bernafas. Ya, waktu seperti itulah saat aku benar-benar
bermunajat kepada sang ilahi robbi. Aku sangat bersyukur atas nikmat yang telah
diberi. Sebab, aku masih tetap hidup di kala aku bercerita seperti ini, dan hal
itulah yang tak aku ketahui kapan akan berakhir. Selamanya kah aku akan
bercerita seperti ini, atau esok aku akan kembali dan tak bercerita lagi? Aku
bersyukur atas rahasia itu.
Aku
masih tetap berteman bersama angin, meski angin tak mampu lagi untuk membelai
rambut panjangku. Aku telah memilih jalan untuk tetap berpegang atas keyakinan
ku. Sang ilahi robbi, sang pencipta angin menyeru dan berbisik lembut padaku
untuk tetap melindungi diriku dan aurat ku. Ku putuskan untuk mengenakan jilbab
penutup kehormatanku.
Asal
kalian tahu, aku bukanlah manusia yang sempurna yang dengan sangat mudahnya
bercerita dengan segenap rasa syukur. Aku bukanlah manusia yang selalu
bercerita dengan tersenyum. Aku bukanlah manusia yang seperti kalian fikirkan.
Aku
adalah manusia yang hadir dengan segala kekurangan ku. Aku lahir dengan
ketidaktahuan ku atas subjek yang melahirkan aku. Begitu saja aku lahir dan
bertempatkan di sebuah keluarga yang tak pernah ikhlas menerima aku seperti
adanya aku. Aku lahir yang dengan berbagai kekurangan pada tubuhku yang mungkin
selayaknya menjadi budak kecil mereka. Aku biasa menyebut mereka paman dan bibi
Yanto. Entah memang mereka yang bertanggung jawab atas kelahiran ku atau tidak,
aku tak pernah paham atas hal itu. Yang aku tahu aku hanyalah budak kecil
mereka yang mulai beranjak dewasa.
Aku
memang terlahir dengan ketidaktajaman penglihatanku. Aku harus dibantu oleh kaca
mata tebal yang selalu mencobaku untuk diejek oleh teman sepermainanku. Namun, tak
apa. Ketidaktajaman mataku membuatku peka dalam bentuk sentuhan, seperti
sentuhan angin.
Setiap hari aku selalu membantu Paman dan Bibi
Yanto untuk berbelanja di pasar dan memasak untuk warung makan mereka. Warung
makan yang dikenal dengan warung makan “Pak Yanto” tak pernah sepi oleh
pengunjung. Apalagi kalau pagi hari, aku cukup kualahan untuk menjadi
pramusaji. Namun, itulah yang menjadi puncak kebahagianku. Melihat Paman dan
Bibiku senang di kala menghitung uang itu sudah cukup. Karena aku tahu bahwa
aku hidup yang dengan berbagai kekurangan ku ini mampu menebar kebahagiaan
kepada insan di sekitarku.
Di
sela aku bercerita seperti ini, ada sedikit luka yang tersirat di dalam hatiku.
Hari ini aku akan meninggalkan kota tercinta ini. Kami akan pindah ke kota
lain. Yogyakarta. Kota itu yang menjadi tujuan kami.
Setelah
aku selesai dengan berbait-bait doa, aku menyimpan mukena ku dan ku masukkan ke
dalam tas besar yang kugunakan untuk packing
barang-barang ku. Tepat pukul 07.00 pagi kami harus berada di stasion kereta.
Aku pun begegas untuk mandi dan segera keluar kamar untuk mengemas
barang-barang lain.
Setelah
solat subuh, kami telah siap berada di depan dan menunggu mobil jemputan yang
akan membawa kami ke stasion. Para warga pun berbondong-bondong menghampiri
kami. Ada yang bersedih karena untuk hari ini dan seterusnya tak akan pernah
merasakan masakan warung kami. Bibi Yanto sangat bangga mendengar hal itu. Aku
pun tersenyum.
Kami
pun telah duduk di bangku kereta masing-masing. Paman dan Bibi Yanto memilih
tempat duduk yang agak jauh dariku. Aku duduk di kursi yang berdampingan
toilet. Tak apa. Tidak mudah berjalan ke toilet dalam posisi kendaraan melaju.
Aku beruntung dengan kursi ini.
Aku menatap keluar jendela. Aku lihat angin
melambai bersama lambaian dedaunan. Sedikit cemas diriku. Aku takut bila aku
tak bertemu dengan angin. Airmataku ku pun terurai perlahan.
Sekitar
empat jam, kami berada di tubuh ular yang berbahan bakar batu bara. Kami turun
dan lekas membawa segala barang kami. Dan pastinya, aku yang membawa banyak
perabotan. Travel yang disewa oleh Paman pun lekas menjemput kami. Dan tak
butuh waktu lama, kami telah sampai di suatu tempat. Suatu tempat yang baru.
Rumah di kota ini tergolong cukup modern, tapi
benar-benar jauh dari kesan alamnya. Kalian akan sangat jarang melihat serumpun
pepohonan yang saling menyapa. Dan pasti nya, ini adalah tempat yang membuat ku
terasa sesak seketika. Karena angin tak kunjung menyapa sedari tadi.
Tempat
tinggal kami cukup strategis untuk berjualan. Pinggir jalan raya. Yah, rumah
yang kata Bibi Yanto akan membawa keberuntungan untuk usaha rumah makannya. Aku
hanya mampu menghela napas. Entah apa yang aku rasakan? Entah bagaimana aku
menjelaskan? Tetap saja aku akan berkata bahwa aku merasa keberatan untuk
tinggal di sini.
Hati
kecilku begitu terusik. Karena terlalu merindukan kampung halaman yang ku
tinggal beberapa jam yang lalu. Tubuhku begitu jujur untuk melakukan penolakan.
Sehingga kini akau hanya mampu terkulai lemas di tempat tidur ku yang seketika
aku bentangkan. Untung, Paman dan Bibi berencana untuk membereskan segalanya
esok hari. Sehingga aku bisa tidur untuk melepas gundah.
Kota
ini memang menjanjikan segalanya. Ilmu, pangkat, materi bisa di dapat di sini.
Berbagai sketsa pengalaman dapat di ambil di kota ini. Ingin memiliki
pengalaman bertemu bule? Berbicara dengan bule? Atau mau pengalaman berkunjung
di pantai? Tersaji di kota ini. Meski begitu, aku belum bisa berkolaborasi
dengan kemewahan kota ini. Apalagi dengan macet kendaraan dan lama detikan
lampu merah lalulintas.
Aku
tertidur di sela aku bercerita padamu tentang kota ini.
***
Angin
tak menjadi sosok superior lagi. Ia akan menciut seketika setelah di usir oleh
sang waktu. Matahari yang terkadang ingin bertemankan angin, tak kuasa melihat
temannya terusir hanya karena waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB. Ya, angin
hanya menemani keberangkatan ku ke pasar pada pukul 03.00 dini hari.
Aku
berjalan menyelusuri trotoar. Aku ingin melihat kota ini sebelum aku mulai
bersahabat dengannya. Aku melihat ke arah jalan raya. Begitu padatnya
lalulintas di sini. Aku hanya menggeleng kepala. Bukan takjub. Tapi, kasihan.
Aku akan sangat tertekan bila aku menghadapi arus lalulintas yang seperti itu.
Di saat aku membayangkan diriku berbaur dengan sistem lalulintas itu, aku
melihat seorang anak laki-laki dan ayahnya yang menyapu jalanan. Mereka sangat
menikmati pagi ini. Kecerian terpancar dari wajah mereka. Aku hanya bisa
terpaku dengan pemandangan itu. Pemandangan yang begitu kontras terlihat. Wajah
mereka menyungging senyum di saat manusia lain begitu seriusnya hanya karena
tidak ingin telat di pagi hari. Dua insan tadi seakan berkata “Hidup ku lebih
mudah, bukan?”
Tak
terasa mata anak itu sudah lama memandang aku yang sedang terpaku. Ia
tersenyum. Aku gugup. Apa yang harus aku katakan? Ia menghampiriku, dan
mengulurkan tangan padaku. Namanya Reno. Dia sepantar denganku. Mungkin kalau
kita sekolah kita akan akan menjadi teman sekelas. Dan itu adalah ayah Reno,
Bapak Agus namanya. Mereka mengajak ku untuk duduk bersama, sekarang saat nya
mereka untuk sarapan sebentar. Jujur, ini bukan waktu yang tepat untuk
bekenalan. Aku malu mengganggu acara sarapan mereka. Tapi mereka memaksa ku untuk
mencicipi masakan Ayah Reno.
Setelah
sedikit berbincang, aku izin untuk pulang. Aku takut bila Bibi marah karena belanjaan
yang aku bawa layu di jalan. Dengan berat hati aku meninggalkan dua insan tadi.
Mereka mengantarkan aku dengan senyuman dan ucapan Reno “Besok ketemu di sini
lagi. Oke” yang membuat aku menyungging senyum tanda setuju.
Malam kini telah mulai
menyapa. Aku mulai membantu untuk membereskan warung Paman dan Bibi. Aku
lakukan semua itu dengan cepat. Mungkin karena aku telah terbiasa. Aku kembali
ke kamar dan merebahkan badan lelah ku. Di kota kemarau ini aku belum
benar-benar bersahabat. Aku masih enggan dengan panas cuaca di sini. Namun, aku
menemukan setetes harapan di antara ke gersangan ini. Dua manusia yang menjelma
bagai oasis di padang pasir. Mereka yang baru aku kenal beberapa jam lalu.
Anak
laki-laki itu yang tak pernah menyesal menjadi penghuni kemarau ini. Bapak itu
yang selalu tersenyum dengan kemarau ini. Meraka bekerja dengan kemarau. Ya,
kemarau yang menggugurkan daun, dan mereka bagian distributor atas daun yang
jatuh. Mereka tidak enggan lagi dengan kemarau.
Reno
bercerita tentang cita-citanya yang ingin menjadi dokter dan memiliki rumah
sakit sendiri. Ia yang telah lelah melihat beberapa temannya yang sakit dan tak
mampu untuk mencapai uang tunai yang tertulis di surat perjanjian rumah sakit.
Aku hanya mengangguk tanda setuju. Ayah Reno yang selalu tersenyum itu pun
bercerita tentang segalanya. Liku hidup yang tak pernah berhenti. Liku hidup
yang tak pernah berhasil merapas senyumnya. Liku hidup yang tak pernah sukses
membukam berbagai cerita dari bibirnya.
Ayah
Reno, manusia yang suka bercerita. Ia bercerita masa kecilnya, semua permainan
yang dirindukan selalu ia sebut. Berbagai bentuk pertemuan yang ingin ia ulangi
tapi hanya mampu keluar dalam bentuk cerita. Semua murid yang kini ia selalu
mengajar ia perkenalkan. Sesekali aku terdiam kagum. Cerita indah dari bibirnya
yang terkadang diiringi oleh pelukan Reno kepadanya. Aku menatap sayu. Malam
ini aku bercerita tentang mereka. Mereka yang ku harap hadir dalam mimpi ku
saat ini.
Aku
telah bergegas untuk pulang dari pasar dan sesegera mungkin bertemu mereka. Tak
lupa aku membawakan berbagai jajanan tradisional dari pasar untuk mereka. Tak
perlu waktu lama, aku telah bertemu mereka. Reno melambaikan tangan dan Ayah
reno seperti biasa dengan senyumnya. Aku semakin mendekat dengan mereka. Ayah
Reno menyapa ku dengan tidak biasa, menyapa dengan ‘mempertanyakan nama’. Aku
yang bingung, menanggapinya dengan berguaru. Reno pun memeluk Ayahnya yang
sampai sekarang masih mengembang senyumnya. Ia bercerita kembali. Masa
kecilnya, orang yang ia sayang, dan murid-muridnya yang ia ajar. Aku menatap
senyum itu, senyum yang menutup setiap kesulitannya. Reno memegang tangannya
yang putih itu, sembari tersenyum menghangatkan. Aku mencoba untuk mengurangi
ketegangan, ku sodorkan makanan yang ku bawa. Mereka menyukainya.
Kemarau
ini aku lalui dengan berbagai gelombang kehidupan, berbagai enigma yang
menyergap secara bertubi-tubi. Kisah hidupku yang belum benar-benar aku
ketahui. Di tambah pula kisah hidup manusia lain yang menurutku lebih kompleks
dari pada kisah ku. Reno dengan ayahnya yang senang bercerita dan tersenyum.
Ayah Reno yang selalu tak mengenali diriku dan ayah Reno yang selalu bercerita
dengan tema yang sama.
Sampai
suatu hari aku menemukan sedikit pencerahan atas enigma itu. Meski dengan
sedikit luka. Tak seperti biasanya, mereka tidak ada di waktu yang seharusnya
mereka ada sebagai asisten kemarau. Aku yang gelagapan mencari mereka dan
bahkan aku rela menunggu untuk bertemu mereka. Aku menunggu dengan gelisah.
Tiba-tiba aku melihat sesosok anak berumur 17 tahun itu. Bukan sebagai tukang
sapu, melainkan pengayuh becak. Dia menatapku dan tersenyum. Anak laki-laki itu
adalah Reno. Ia berhenti mengayuh lalu menyapaku.
Hidupnya
memang tak benar-benar mulus. Namun ia tetap semangat dengan membawa
cita-citanya. Kini ia harus sendiri dalam senyumnya. Ayah kesayangannya telah
berada di tempat yang semestinya. Aku bisa menyebut ayahnya sebagai “manusia
yang dibekukan oleh waktu”. Ayah Reno yang hidup di waktu yang stagnan. Ia
hanya berkutat pada waktu ketika ia menjadi seorang guru. Ia berputar pada
waktu ketika Ibu dan adik Reno masih mampu melihat senyumnya. Ia terjebak oleh
nostalgia yang indah, sehingga Paman Reno selaku adik Ayah Reno akan merasa
lega jika ia di tempat yang semestinya.
Reno,
anak laki-laki yang tak ingin begitu saja menyerah. Mimpi nya yang indah yang ia
yakini akan terwujud di kemudian hari. Ia bercerita bahwa ia akan menyembuhkan
Ayahnya, dan mereka akan bersama kembali. Aku menahan napas sejenak atas cerita
tersebut. Aku tak tahu, harus seperti apa. Aku patut kasihan atau aku patut
untuk kagum.
Saat
ini aku bercerita di bawah kemarau. Kemarau yang memang ku yakini tak pernah
ramah sedikit pun. Kisah sedih mereka pun terkubur dalam kemarau beserta kisah
sedih lainnya. Kemarau ini memang tak akan pernah untuk berhenti mengusik
angin. Angin yang untuk saat ini aku rindukan. Angin yang dulu selalu membelai
perasaanku yang sedih. Aku rindukan angin itu.
END

Komentar
Posting Komentar