Cerita Pendek

Ketika mentari bersemayam
Oleh : Dian NS
Fajar menghantarkan matahari kembali untuk memenuhi tugasnya. Fajar pula yang mengerahkan angin untuk mengayun ranting-ranting pohon sehingga meneteslah embun yang sedang berpangkuan. Bekas-bekas malam masih ketara, apalagi dipelupuk mata gadis kecil yang masih terbuai dengan mimpi indahnya. Takbir telah benar-benar menggema dari berbagai penjuru arah mata angin. Semua bersahut-sahutan nyaring. Indah. Setidaknya tidak seperti kemarin sore, seakan berlomba untuk menunjukkan speaker mana yang paling keras. Namun gadis kecil itu tetap saja asyik dengan tidurnya, enggan untuk bergerak barang sekejap meluruskan otot-otot saja. Selimut yang bergambar cinderella itu, selimut kesayangannya, masih setia menemani. Bukan selimutnya, tapi dia yang asyik berteman dengan selimut.
Terdengar suara langkah kaki lagi. Suara umi yang tengah putus asa untuk membangunkan bungsunya. Terdengar derit pintu yang bersenggolan dengan engselnya ketika umi tengah membuka pintu di ‘kerajaan’ bungsunya. Ia pun geleng-geleng kepala.
“Masya Allah... belum bangun juga”
Umi menyentuh bahu kanan bungsunya. Asyik sekali memandang gadis gembul itu, seperti ingin merajai malam dan berharap malam ada meski matahari bersinar. Dan itu hanya sebatas khayalnya.
“Ah.. Umi” Elina, orang-orang sering menyapanya, akhirnya bergerak juga. Memindah posisi maksudnya.
“Ayo nak, bangun... sudah subuh. Ayo Elina sholat subuh”
Bukan sahutan, tapi dengkuran yang terdengar.
“Ya Allah...” Ucap umi dengan sabarnya. Perempuan cantik yang selalu memiliki stok kesabaran lebih dari siapapun.
“Elina... Sayang... Umi tidak mau Elina tidak disayang Tuhan. Umi tidak mau Elina mengkhianati ilmu Elina dari Pak Ustadz, bahwa sholat itu hukumnya wajib bagaimana keadaannya”
Akhirnya sentuhan terakhir ini yang mampu membuka mata bundar gadis kecil itu. Kepalanya pun sudah banyak digerak olehnya dan sekarang berangsur di pangkuan umi. Umi menggelengkan kepala melihat bungsunya sembari membelai rambutnya.
“Masih mengantuk umi. Kemarin malam Elina terlalu larut tidurnya. Gara-gara Kak Reka yang minta ditemenin nonton layar tancep dilapangan ”
“Loh? Kok nyalahin orang lain? Kan yang keasyikan juga  Elina. Udah nanti saja diskusinya, sekarang Elina ambil air wudhu lalu solat subuh. Lihat udah jam 5 lebih, sayang”
Umi menuntun tangan anak bungsunya yang lalu diikuti oleh persendian Elina. Akhirnya ia mau beranjak juga. Tidak sulit menemukan air wudhu, hanya melewati satu kamar tidur lalu turun dari beberapa anak tangga dan akhirnya menemukan genuk[1] yang berisi air wudhu. Elina pun membuka ‘sumpalan’ di kaki genuk dan menguncurlah air thohir muthohir tersebut.
***
Sebelumnya ingin ku ceritakan bagaimana keluarga sederhana itu mengarungi kehidupannya. Rumah itu, rumah yang dibangun hanya dengan papan yang terpatri oleh pasak-pasak yang kuat, di sanalah mereka berteduh. Di bawah nyiur pepohonan yang rindang. Mereka tak perlu Air conditioner untuk mendapatkan kesegaran, karena Tuhan telah meniupkan di hampir helaian angin yang berhembus dengan berbagai berkah dan rahmat. Mereka tidak membutuhkan refrigerator,  tiada kata mubadzir akan kelebihan makanan, karena kebiasan berbagai yang masih diemban oleh lingkungan mereka. Bila terlihat, mereka saling menukar makanan. Tapi bukan itu maksudnya. Berbagilah maksudnya.
Matahari akhirnya menampakan sinarnya. Semburatnya pun menggerakan langkah kaki para penduduk bumi untuk bergegas memakai pakaiannya yang suci dan bagus untuk menjalankan Sholat sunah Idhul adha. Tak ketinggalan pula di keluarga Umi Aisyah, nampak keributan sana sini tengah mewarnai antusias untuk menyambut hari mubarok ini.
“Umi, Elina tidak bisa menemukan baju Elina” teriak gadis bungsu itu.
“Eh, Elina.. kok lemarinya berantakan gini” Teriak Si tengah yang tidak kalah kencangnya.
“Elina buru-buru takut ditinggal Si Enog. Elina nyari baju”
“Tapi kan tidak gini juga. Tuh, baju aku ikut awut-awutan. Ih... Umii”
“Ya Allah, pagi-pagi sudah ribut saja. Ada apa?”
“Umi, baju Reka um..” Rengek Si tengah.
“Elina, bajunya udah umi setrika dan udah umi siapin di meja belajar Elina. Coba lihat”
Si bungsu itu pun bengong dan bingung. Namun tidak lama, kakinya pun bergegas ke meja belajar untuk melihat bajunya.
“Umi, terimakasih” Teriaknya.
Reka pun masih manyun dengan nasibnya, hampir-hampir ia ingin menitikkan air matanya melihat hasil jerih payahnya hampir setengah hari merapikan bajunya sendiri hingga menggadaikan waktu mainnya.
“Sudah, nanti umi bantu membereskan” Ucap Umi sembari membelai rambut anaknya.
“Kak Elisa juga bantu, Reka” Elisa yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Elisa adalah satu-satunya yang sudah mampu mewarisi sifat Umi Aisyah. Si Sulung itu yang wajahnya seperti abah dengan perawakan tinggi, namun ramping seperti Umi Aisyah. Suara besar seperti abah namun isinya menenangkan seperti umi Aisyah. Gadis berkaca mata itu yang hobi dengan buku yang penuh kasih untuk semua, khususnya adik-adiknya.
Akhirnya, Reka pun reda mendungya.
Mereka beriringan berjalan menuju salah satu masjid terdekat dari rumah mereka. umi dengan gamis berwarna biru muda terlihat bagai lantunan ombak laut yang beriak dengan damai, Elisa dengan gamis putihnya terlihat bagai bidadari yang turun dari kahyangan, Reka dengan gamis padu padan hijau dan putih bagai kedamaian yang melambangkan kejernihan, dan Abah dengan baju takwa biru senada dengan kekasih hatinya, Umi Aisyah. Dan tak terlihat Elisa, karena gadis itu telah menggunakan sepedanya bersama sahabatnya Si Enog.
Suara takbir menggema dan terdengar sangat jelas. Bibir mereka pun mengikuti alunan merdu itu. Aku memandang sendu pemandangan itu. Suasana yang hanya akan ditemui 2 kali dalam setahun. Suasana yang banyak orang rindukan. Suasana yang lekat dengan pelajaran sosial dan kemanusiaan yang erat. Mereka telah berjejer membentangkan sajadah. Elina tiba-tiba ingin bersama Uminya. Dan yang ku tahu dengan alasan Si Enog yang juga ingin bersama Emaknya.
“Umi, Reka sama teman-teman ya. Itu si Indah dan kawan-kawan sudah menunggu”
“Iya, Reka” Ucap umi dengan tersenyum.
Elisa sedikit melirik Umi dan ingin membicarakan sesuatu.
“Umi, kenapa diizinkan. Kan umi tahu sendiri mereka-mereka ini”
Umi hanya diam dengan ucapan anaknya. Pemahamanlah yang ia gunakan. Reka tidak mudah dilarang. Ia belum dewasa. Ia bagai kayu yang rapuh yang harus hati-hati menjaganya. Bila salah sedikit dalam bertindak, maka akan patah. Itulah yang tengah umi lakukan. Perlahan, tapi pasti. Dengan mengandalkan pemahaman, kasih sayang, serta konfrontasi bila sudah siap.
Telah bergema suara bilal yang menandakan sholat akan segera didirikan. Serentak hampir berberengan mereka beranjak dari sajadah. Berdiri untuk bermunajat, menyerahkan segalanya untuk Ilahi robbi. Terlihat khitmad. Aku memandang dari gedung yang berbeda. Menyaksikan makhluk-makhluknya tunduk, bersimpuh mengagungkanNya. Semua-muanya. Hingga semribit angin pun berbisik mengucap namaNya.
Cuaca hari ini bersahabat. Mentari sendu, namun tidak muram. Ia seakan terharu hingga meredup hingga seperkian jam. Akhirnya sampai pada tahap akhir khatib berbicara. Pada akhir kesimpulan ia berkata “Ketaatan itulah yang menjadi roda bagi apapun. Menjaga dari apapun. Tragedi perih akan terlewati dengan jalan ketaatan. Kenikmatan tidak menjadi mungkar bila dilapisi oleh ketaatan”. Aku tidak mengerti maksudnya, namun aku paham kata-kata itu yang sering didendangkan oleh para motivator untuk menanggulangi kasus bunuh diri. Dengan redaksi yang berbeda, so pasti.
Mereka punya cara lain untuk tetap menarik perhatianku. Pulang ke rumah dengan cara berbeda. Apa maksudnya? Mereka memilih menempuh jalan yang cukup jauh karena ketika ku tanya Elina ia berkata
“Kan, tadi sudah lewat sana”  Akhirnya aku diam, dan melihat adegan selanjutnya.
“Abi, nanti abi menyembelih hewan lagi ya? Berapa hewan bi?” Tanya Elina saat mereka melangkah untuk pulang.
“Katanya bapak RT cukup banyak hewan qurban tahun ini. Tidak hanya Abi, nanti juga dibantu sama Pak Warto dan orang desa lainnya. Kalau Cuma abi saja, ya kualahan sama sapinya”
Mendengar jawaban Abinya, Elina pun tertawa cekikan. Gadis sekecil dia memang pandai dalam imajinasi. Pandai menvisualisasikan segalanya dalam pikirannya.
“Alhamdulilah ya, Bi. Desa kita sudah terbuka untuk menuaikan kewajibannya. Umi kemarin dapat kabar dari teman Umi yang ada di pulau lain. Katanya, ketika mau merayakan hari idul adha ini harus beli daging dulu. Tidak ada kesadaran untuk warganya dalam berqurban”
“Harus ada pelopor itu, Mi. Maka dari itu, kita harus bersyukur tinggal di sini”
“Aku akan bersyukur lagi kalau tinggal di sana, Bi. Karena aku punya kesempatan untuk menjadi pelopor bagi mereka. Untuk memberi teladan bahwa berqurban wajib bagi umat muslim yang mampu” Sahut Si Sulung yang memang sudah terlihat sikap idealisnya.
Umi dan Abi mengangguk, mengiyakan. Siapa yang tidak ingin punya anak yang memiliki pikiran yang mulia seperti itu. Tinggal membentuk niat saja untuk penegakkan syariat yang benar.
“Di tempat apapun kita harus bersyukur, karena itu baik untuk kita” Umi menimpali dengan senyumnya.
Mereka pun telah sampai di pelataran rumahnya, berbarengan selesainya diskusi mereka. Elina berlari menuju ruang makan, menunggu dan melihat umi untuk membuat sarapan. Karena mereka harus pergi ke masjid pagi sekali, Umi belum menyiapkan sarapan. Abi mencari goloknya untuk mengasahnya lalu akan dibawa kembali menuju masjid untuk menunaikan tugasnya.
“Umi kapan ya Elina bisa berqurban?”  Ucap Elina sembari mengambil kerupuk dalam toples.
Pandangan Umi beralih menuju tempat lain. Pandangannya lain. Pertanyaan Si Bungsu seakan membangkitkan sesuatu. Yang terpendam yang tak ingin dibagi ke siapapun, kapanpun.
“Insya Allah, besok kita akan mampu untuk berqurban. Elina mau berqurban apa?”
“Ayam boleh kan mi? Itukan mudah”
Umi tertawa mendengar ucapan polos anaknya.
“Ayam tidak bisa Elina. Berqurban itu ada ketentuannya. Untuk satu orang cukup satu kambing, itu pahalanya bisa untuk sekeluarganya. Bila mau iuran juga bisa dengan sapi atau onta”
“Onta umi? Di sini ada yang qurban onta mi?”
“Onta bukan hewan lokal sini, Elina. Jadi...” Ucap umi terpotong.
“Tidak ada. Yah...” Masih dengan mengunyah gigitan kerupuk terakhir.
Aku beranjakan meninggalkan mereka. Aku bergegas menyiapkan alat-alat ku untuk proses observasi. Kamera. Aku beranjak untuk duduk di teras. Mencari sudut-sudut indah untuk ku abadikan. Ku lihat pemandangan dua kakak beradik  yang tengah berbincang. Ku potret, mereka cantik. Jarak mereka tak cukup jauh hingga aku pun mampu mendengar mereka.
“Masih saja kamu seperti itu. Bagaimana kalo Abi dan Umi tahu semua ini, mereka akan kecewa besar”
“Jika Abi atau Umi tahu tentang semua ini, pasti selalu dari Kak Elisa”
“Reka, kakak tidak ingin membuat Umi sedih. Dan jika Abi tahu juga, ia akan terluka”
Reka masih saja sibuk dengan barang yang ada ditangan. Selembar kertas yang  tak ku ketahui isinya.
“Umi sudah mengijinkan melakukan apapun kepada kita, pantaskah kita melukai kepercayaan yang diberikan Umi?” Elisa masih dengan ucapannya.
Reka pun masih kekeh dengan senyapnya. Akhirnya ia pun beranjak dengan dibarengi Elisa yang memanggil namanya.
Apa yang mereka tengah bicarakan aku tak tahu pasti, sekejap pun akan terungkap apa yang tengah terjadi sebenarnya.
Sudah seminggu aku berada di desa permai ini dengan menumpang di salah satu keluarga yang bersedia menampung mahasiswa dengan korban tugasnya. Benar, aku tengah mengadakan kegiatan observasi untuk melengkapi data penelitian ku. Dan esok siang, aku akan beranjak dari perjalanan hidup di sini. Kembali ke kota dengan berbagai rutinitas yang tengah menunggu. Namun ada satu hal yang menjadi pembeda dengan sebelumnya, yang aku sendiri tidak pernah membayangkan maupun memikirkannya.
***
Setelah air yang mengguyur seluruh badan ku, sinar mentari yang tengah beradu dengan senja pun menyiram sekujur tubuh ku hingga meresap dalam relung jiwaku. Daun-daun hijau terlihat mengkilat keemasan bermandi sinarnya. Ranting-ranting mendayu-dayu bergoyang karena sapuan angin seakan ingin merontokkan emas-emas itu untuk manusia. aku ingin menangkapnya namun hampa, hingga kamera ini yang mengabadikannya.
Si Kecil terlihat berlari-lari tergesa-gesa menuruni tangga. Dengan suara cemprengnya, ia memanggil uminya. Di susul pula Si Tengah turut mengejar dengan raut wajah yang tak bisa digambarkan oleh ucapan. Ada banyak raut yang bercampur menjadi satu di sana. Umi dimana?
“Iya, Elina... Ada apa?” Umi pun tergesa-gesa mendengar teriakan anak-anaknya.
“Elina... Berikan tidak! Elina!” Reka bicara dalam putus asanya.
Apa yang dipegang Elisa akhirnya jatuh di tangan umi. Ini saat penentuan. Selembar kertas, umi membacanya. Berubah semua kejadiannya.
Tidak mudah memang menjalani kehidupan di masa peralihan, banyak ketimpangan. Apa yang dikandung pikiran terkadang belum mampu sinkron dengan kehendak hati apalagi lingkungan. bicara tentang lingkungan cukup kompleks. Multidimensi. Ini yang tidak mudah bagi para remaja. Dewasa belum, anak-anak pun bukan.
Ruang redup ini yang akan menjadi saksi. Kursi-kursi yang membentuk formasi melingkar mengelilingi meja kayu ukiran. Mereka jadi saksi bisu. Lampu kuning meredup menjadi pencahayaan yang seolah menyorot bagai rekaman yang kapan saja bisa memutar adegan di sana, kapan saja. Kami semua audiens yang melihat dengan jantung berdegup. Apa yang akan terjadi? Degupan kencang pasti tengah terjadi di jantung Si tengah. Dengan wajah menunduk yang hampir mengalir mili sungai matanya.
Si Bungsu yang juga menunduk bersalah. Ia tak bisa memperkirakan bahwa hal ini akan terjadi. Ia serba salah dan tidak berani melakukan apapun seperti yang ia kehendaki, seperti biasanya. Reka dengan wajah cemas. Banyak yang ia cemaskan. Bukan satu atau dua insan, melainkan semua.
Umi wajahnya tergurat tengah mengatur kata-kata. Ia yang tengah memegang kunci untuk peristiwa malam ini. peristiwa sakral yang digelar setelah sholat magrib. Bagi mereka biasa, bagi aku, ini jarang terjadi dalam kehidupanku.
“Sudah sejak kapan kamu seperti ini Reka?” Umi membuka juga akhirnya.
Reka hanya bisa menenggelamkan wajahnya dalam kusut pikirannya. Tidak mampu menjawab apa-apa.
Terlihat umi menghela nafas. Tengah menahan sesuatu. Semua kembali hening. Tiada yang berani mengangkat wajah. Sekalipun Si Bungsu. Ada yang perlu mereka wanti-wanti. Masalah ini jangan sampai terdengar oleh Abi.
“Umi sudah panjang lebar memberikan nasihat kepada kalian semua. Setelah sholat subuh kita punya kajian rutin. Belum ditambah ngaji kalian di surau. Belum lagi pendidikan islam kalian di madrasah. Semua menguap kemana?”
“Bukan kah mengamalkan ilmu merupakan salah satu ciri ilmu barokah?”
“Bukan begitu Reka?”
Ia masih menunduk.
“Tidak ada macam seperti ini lagi terulang. Kalian harus fokus belajar, dan... bukan hanya itu, hal seperti ini dilarang oleh syariat. Paham?” Umi mengatakan kalimat penghabisan sembari mengangkat surat ‘merah jambu’ itu. Milik Reka.

***
Akhirnya waktu tugas ku telah usai. Hari ini aku akan pulang kembali ke Kota. Banyak yang ku dapat di sini, yang pernah ku katakan bahwa aku tak pernah membayangkan hal ini terjadi. Aku berkemas di pagi buta, lalu seperti biasa melihat mereka yang sudah menggunakan mukena. Wajah yang berpijar di pagi buta mungkin saat ini jarang akan kita temui. Apalagi kebanyakan masyarakat kota. Pagi-pagi wajahnya sudah bergurat mendung saja. Ada yang jengkel bangun kesiangan yang lalu mandi dan pergi ke kantor atau kampus dengan tergesa-gesa, ada pula yang sudah memuncak emosinya ketika dihadapkan oleh macet lalu lintas, dan masih banyak kemungkinan lainnya.
Mentari sudah mulai nampak, hangatnya bersahabat dengan pakaian baru ku. Gamis biru langit dengan perpaduan hijab berwarna putih. Benar, aku menggunakan hijab. Ini kali kedua aku menggunakan hijab yakni saat aku masih duduk di sekolah dasar di kampung dahulu. Dan seterusnya aku lepas. Kini aku menyambutnya kembali. Bukan, Dia yang menerima ku kembali.  
Mobil yang menjemputku akhirnya datang juga. Abi membantu ku meneteng koper mini ku dan memasukkannya dalam bagasi mobil. Oh, ya ada yang kaget ternyata. Teman-teman ku tercengang melihat perubahan ku, sehingga ada yang nyeletuk,
“Ada angin apa ini, tiba-tiba saja ...?” Ucapnya terpotong. Entah kenapa, aku tidak tahu.
“Mana setelan denim mu atau jogger mu?”
“Kemeja pujaan mu?”
Ah, berisik sekali mereka. Pacar ku, ada di dalam mobil itu. Mungkinkah kisah ku akan seperti Reka. Aku tersenyum membayangkannya. Bisa jadi.
Aku menoleh kepada wanita empat itu. memandangi mereka lamat-lamat berusaha menghafal dan mengasosiasikan dengan pengalaman yang mengagumkan. Si Bungsu maju ke depan dan memberikan sesuatu. Mushaf Al-qur’an. Aku membelalak dan bingung mau berbicara apa.
“Aku belum bisa membacanya”
“Tak apa. Simpanlah. Suatu saat Nak Reyna akan membutuhkannya”
Benar apa yang mereka katakan, karena saat aku menulis tulisan ini. Aku telah menyisihkan sejenak waktu untuk mengajar Al qur’an. Bukan di TPA atau apa, tapi surau kecil-kecilan yang digarap beberapa dari kami yang semuanya di isi oleh anak putus sekolah. Benar Umi, Reyna membutuhkannya sekarang*.

END

*Terispirasi dari Novel yang berjudul Hafalan Sholat Delisa oleh Tereliye
.






















[1] Tempat air yang terbuat dari tanah lihat

Komentar

Postingan Populer