Because We Know
“Jadilah
kamu orang yang mengajar atau belajar atau pendengar (orang mengaji), atau
pencinta (mencintai ilmu) dan janganlah kamu menjadi orang yang kelima (artinya
tidak mengajar, tidak belajar, tidak suka mendengarkan pengajian, dan tidak
mencintai ilmu), maka kamu akan hancur”
HR.
Al-Baihaqy
Sesungguhnya
menjadi penduduk bumi adalah sesuatu pekerjaan yang tidak terlalu complicated. Tidak ruwet ataupun
semrawut. Apalagi bumi yang diciptakan untuk kita ini maha besar indahnya. Ada
beribu hal yang dapat membuat kepala kita bergeleng dengan mulut ternganga karena
begitu takjubnya. So there’s no bad life.
Semua
itu terjawab bila kita telah paham konsep hidup sebenarnya. Hadits di ataslah
kuncinya. Manusia diciptakan oleh sang pencipta pasti dibekali ilmu untuk hidup
di bumi ini atau bahkan pedoman hidup untuk melangsungkan kehidupan di bumi
ini. Hal ini lah yang membuat hidup itu mudah. Peraturan-peraturan sudah jelas
terpampang tanpa ada tedeng aling-aling
alias jelas. Namun, banyak dari kita tidak memahami hal itu. Kita hanya
berfokus pada sesuatu hal kecil yang termasuk dalam konsep kehidupan itu
sendiri, yaitu cobaan. Tiada hidup tanpa
cobaan, kata-kata yang sering kita temui di buku-buku motivasi atau kita
dengar di setiap ucapan para motivator. Benar memang, hidup itu pasti tidak
pernah lepas dengan hal-hal yang berbau cobaan. Dan buruknya
kita,
kita hanya berfokus pada cobaan itu sendiri. Kita hanya berkecampung dengan
kolam besar cobaan dan menundukkan kepala di dalamnya tanpa mau mendongak ke
depan untuk melihat peluang besar lainnya, sehingga kita memberi label bahwa
hidup ini sulit.
Hidup
ini tak perlu di konsep ruwet-ruwet kok. It’s
a simple thing, you know? Apabila kita memang mematuhi peraturan-peraturan
yang telah dibuat oleh sang pencipta untuk kita. Kita paham bahwa sang pencipta
yaitu Allah telah menurunkan pedoman hidup untuk makhluknya, yaitu Al-Qur’an
dan As-Sunnah. Itu dipegang dulu ya...
Lalu setelah kita mendapat dua pedoman tadi langkah selanjutnya adalah
mengaplikasikannya ke dalam kehidupan.
Clear kan? Apapun hal yang menerjang kita dan tak kepalang tanggung besarnya
kekuatan terjangan itu, bila kita telah kekeh memegang pedoman Allah itu, kita
tak akan pernah terombang-ambing dalam kegalauan masalah hidup. Kita hanya
perlu menerapkan saja dan istiqomah.
Tapi kan kita harus belajar dulu
tentang pedoman Allah itu? Itu nggak mudah loh.
Itulah hidup. Entah kita sadari atau enggak, hidup itu memag sebuah proses
belajar. Makan minum itupun kita dapat dari proses belajar dan sekalipun buang
hajat merupakan hasil dari proses belajar. Tak ada seorangpun yang mendapat hal
itu tanpa belajar (kecuali Nabi Isa AS yang berbicara lancar saat ia masih dalam
usia yang pada umumnya belum mampu untuk berbicara). Hidup itu belajar. Dan
sama halnya dengan mempelajari pedoman Allah. Itu adalah sebuah kewajiban untuk
mengetahui peraturan Allah. Dan ketika kita telah paham peraturan Allah itu,
pasti tidak ada kata pesimis dalam diri kita karena kejelasannya itulah yang
menerangi jalan kita untuk melangkah secara mantap.
Dulu
atau bahkan sekarang kita pasti pernah merasakan ketidakjelasan kehidupan kita.
Mungkin lebih tepatnya ketika masa remaja. Biasanya disebut fase ‘pencarian
jati diri’. Pasti pernah ngalami ya? #keepoo. Terlepas dari pernah tidaknya
kita di fase ‘pencarian jati diri’, di luar sana pasti ada manusia yang
mengalami fase itu. Lalu coba kita lihat perbedaan dari pola tingkah mereka.
Ada beberapa orang yang secara mantap melangkah dengan pasti, ada pula yang
bimbang sehingga ia pun di posisi yang stagnan, lalu ada yang benar-benar akut
untuk mendongak ke depan sekalipun, dan pasti banyak ragam pola tingkah seperti
itu. Hal itu lah yang merupakan sebuah output dari kesadaran kita akan
keberadaan peratuaran Allah.
Garis
besarnya dari hadits di atas adlah kita sebagai manusia tak seharusnya menjadi
sosok yang pesimis yang mana kehilangan semangat untuk hidup. Sebaliknya kita
harus tetap optimis di dalam keadaan seberapa pun rumitnya. Apalagi kita
sebagai seorang muslim yang mempunyai sosok kebanggaan yaitu Rasullulah SAW
yang selalu menjadi suri teladan untuk umatnya. kita bisa menengok kisah beliau
yang bertahan di setiap kondisi apapun. Beliau tetap lantang menyerukan agama
Allah yang mana di saat itu di anggap sesuatu yang tabu. Namun karena beliau
paham akan kebenaran agama Allah, beliau tetap kukuh mesti kekukuhannyua dapat
sewaktu-waktu mengantarkan beliau kedepan pintu gerbang kematian. Seperti itulah
sosok yang mana telah berhasil menemukan tujuan hidupnya, tanpa keragu-raguan
mereka pun melangkah. Dan semua itu karena anugerah Allah yang telah menurunkan
pedoman-pedoman untuk makhluknya agar dapat berjalan kearah tujuannya yang
benar. Insya Allah.

Komentar
Posting Komentar