Review Movie

Film                 : Harmony
Direktur           : Dae-Kyu Kang
Penulis            : Seung Yeon Lee, Je-Gyun Yun
Produser          : Nam-Su Kim, Je-Gyun Yun, Jae-Won Jeong
Kameramen     : Yeong-Ho Kim
Tanggal Rilis : 28 Januari 2010
Genre              : Drama
Durasi             : 115 menit
Bahasa             : Korea
Kota                : Korea Selatan

Mari kita coba menghabiskan hari-hari terakhir hidup kita dengan senyuman. Jika kau benar-benar merindukannya, jika itu terlalu berat untuk kau hadapi, mari kita hadapi bersama-sama dan saling berbagi bahu untuk menangis.
Sekali lagi ku kisahkan tentang perempuan. Kosakata tentang perempuan selalu memiliki wadah dan jalannya sendiri untuk mengalir menjadi sebuah puisi, sebuah cerita. Dan tiada habisnya. Sebelumnya, saya telah menemanimu dengan kisah perempuan-perempuan dalam buku “Cantik itu luka’. Masih dengan perempuan, saya akan menamani malam mu.
Setiap manusia memiliki jalan panjang tersendiri dengan cabang yang tentu berbeda-beda. Ada yang mungkin terlihat lurus dan aman, ada yang berkelok, bahkan ada yang curam penuh dengan batu terjal lagi jurang. Itulah kehidupan manusia yang kurang lebih mempengaruhi siapa dirinya. Meski, tentu semua tetap berada pada kehendak manusianya serta penciptaNya.
Film harmony ini menjadi sebuah flashback serta paparan kenyataan kehidupan beberapa perempuan. Tentang beberapa perempuan yang mewarnai kehidupannya di dalam bui. Perempuan pertama bernama Jeong Hye Hong yang diperankan oleh Yoo Jin Kim. Jeong Hye adalah seorang perempuan yang melahirkan anaknya di dalam penjara. Masa lalunya atau alasan yang membawanya ke dalam penjara adalah membunuh suaminya. Jeong Hye memiliki suami yang cukup tempramental sehingga kerap ia mendapatkan kekerasan secara fisik. Tentu, nasib tidaklah begitu buruk. Ia dianugrahi seorang anak laki-laki yang menjadi obat pelipur baginya. Bahkan, bagi hampir semua perempuan senasib Jeong Hye.
Perempuan kedua adalah seorang perempuan tua bernama Moon Ok Kim yang diperankan oleh Moon He Nah. Ia juga memiliki masa lalu yang tidak membahagiakan bersama suaminya, hingga menguras semua energi psikisnya yang membawanya pada tindakan yang mungkin cukup disesalinya. Kenyataannya setiap luka selalu memiliki obatnya, luka batin sekalipun. Dalam bui ia menemukan jiwanya kembali yang sempat hilang, yakni musik. Musik telah menghidupkan beberapa jiwa yang kurang lebih tandus. Ini bukan sekedar musik, kalian tahu paduan suara geraja? Seperti itu. Itu semacam doa-doa atau pujian-pujian yang bersifat spiritual. Inilah yang menjawab mengapa judul film ini dinamakan ‘Harmony’.
Perempuan ketiga adalah Yoo Mi Kang yang diperankan oleh Ye Won Kang. Ia adalah gadis yang penuh luka di jiwanya. Ia adalah gadis depresi yang sulit melupakan atau memaafkan masa lalunya. Kehidupan terberatnya adalah hubungan dirinya dengan ibunya yang baik, bahkan cenderung buruk. Ia adalah perempuan yang menjadi jiwa dari Harmony Choir, nama paduan suara mereka. Itu menjadi obat bagi luka pada batinnya. Tampak sekali perbedaan jiwa mati dan jiwa yang tumbuh kembali pada gadis ini. Dalam Harmony Choir, ia menemukan kembali hidupnya.
Masih banyak kisah perempuan yang tidak bisa saya sebutkan di sini. Itulah kehidupan manusia. Setiap manusia selalu memiliki titik terendah dalam kehidupannya. Meski demikian, selalu ada cara untuk dapat perlahan menanjak ke atas. Tergantung diri masing-masing pribadi, ingin mencari atau menanjakinya dengan konsekuensi lelah tentunya. Atau tetap berlelah-lelah ria adalam titik terendahnya. Dua pilihan ini kerap saya temui dalam diri saya tentunya maupun diri orang-orang di sekitar saya.
Film ini cukup mampu mengeksplorasi emosi penontonnya. Dua emosi yang banyak terlihat pada saya saat menontonnya adalah emosi senang dengan beberapa bahakan. Serta, emosi sedih dengan linangan air mata. Film ini memang cukup lucu. Yang paling saya ingat yakni tentang tingkah lucu Si Kecil Min Woo. Aih, lucu sekali anak ini. Min Woo sering menangis ketika ibunya, Jeong Hye menyanyi. Namun, pada akhirnya dari belajar dan belajar, Ibunya Jeong Hye dapat menenangkan tidurnya dengan nyanyian.
Kesedihan dalam film ini juga tak kalah banyak. Banyak beberapa adegan yang memunculkan emosi sedih. Siapa yang ingin terpisahkan oleh anak-anaknya? Hampir lupa, beberapa dari mereka adalah seorang ibu yang meninggalkan anak-anaknya di rumah. Atau siapa yang ingin terpisah bahkan dipisahkan dari keluarganya atau orang-orang tercinta? Tentu, dengan akal sehat kita menjawabnya, Tidak.
Sisi lain, film ini dimainkan oleh artis yang tidak begitu terkenal, meski beberapa kerap mewarnai film atau drama yang sering saya tonton. Musik-musik yang ditampilkan pun cukup sendu, walau ada satu-dua lagu yang cukup nge-beat. Ada efek film musikal tapi jangan dibayangkan seperti film Hanna Montana dkk.
Film ini cukup seru, bagi saya. Meski diawal tidak cukup tertarik apalagi dengan judulnya, tapi kalau sudah diselami akan cinta dengan sendirinya. Teringat witing tresno jalaran soko kulino. Banyak pelajaran-pelajaran yang mampu saya dapatkan di film ini. Juga bisa saya dapatkan tujuan awal saya tonton film ini adalah sebagai hiburan. Sekian.


#tantangan3
#tantanganODOP
 #onedayonepost  #ODOPbatch5

Komentar

Postingan Populer