Menu Sederhana Beringharjo

Siapa yang tidak kenal dengan Malioboro? Jika bertandang ke Yogyakarta, terasa tidak afdhol jika tidak menginjakkan ke kota kecil yang ramai selama 24 jam ini. Beragam hal akan kita temukan di kota ini. Sebuah bangunan khas zaman belanda yang menjadi bank pertama di Indonesia berdiri disana, benteng Vredeburg yang menyimpan puing-puing sejarah dari teks sampai miniatur-miniatur yang menggambar keadaan zaman dahulu, keraton Yogyakarta yang menjadi salah satu alasan mengapa Yogyakarta menyandang gelar sebagai kota istimewa, dan yang tak tertinggal bagi semua kaum yakni Pasar Beringharjo yang menyajikan berbagai pakaian batik dan lainnya.
Tulisan ini akan mengupas tentang sisi lain dari indahnya kota kecil Malioboro. Tak melulu tentang gemerlap lampu kota, warna-warni bunga hiasan, patung-patung berjejeran yang acap kali ganti, atau lalu lalang kendaraan yang menggambarkan ramainya kota ini. Kesederhanaan bisa menjadi cerita bagi wilayah ini.
Diantara banyaknya pameran-pemeran batik yang terpajang di area Pasar Beringharjo, kita bisa melihat sisi kesederhanaan dari sekolompok ibu-ibu yang tak berlebihan dibilang perkasa. Kita bisa menyebutnya pekerja buruh gendong. Dari pengamatan kami, usia mereka tergolong tak lagi muda, sekitar 50 tahun ke atas. Mereka tampak berjalan mengintari pasar dimana menjajakan jasanya. Dari ruko ke ruko, mereka mengasah mata dan rasa empatinya untuk mau membantu pelanggan yang kesusahan mengangkat belanjaannya.
Dalam perjalanan kami ini (11 April 2016), kami melihat sosok perempuan yang sudah pantas dipanggil dengan sebutan Simbah. Memang, beliau telah berumur 70 tahun. Kami pantau bagaimana Simbah yang memperkenalkan diri sebagai Girah ini tengah mencari pelanggan. Langkahnya mantap menawarkan bantuan.  Setelah kurang lebih 45 menit, Mbah Girah berhenti sejenak dan terlihat meluruskan kaki-kakinya yang tak beralas. Kami memutuskan untuk menghampiri beliau.
Dalam rentang waktu hampir 30 menit, Mbah Girah menceritakan bagaimana kehidupannya menjadi seorang buruh gendong. Pekerjaan ini telah digelutinya selama 40 tahunan. Hal ini dilakukannya untuk membantu suaminya yang sebagai petani. Menurutnya, pekerjaan ini sangat menyenangkan. Salah satunya adalah bertemu dengan orang-orang dari penjuru manapun. Seperti bertemu pelanggan yang tidak bisa bahasa jawa dan beliau yang tak mengerti bahasa Indonesia. Satu lagi hal yang bisa Mbah Girah syukuri adalah bertemu teman-teman yang seprofesi dengan beliau. Beliau bisa bercerita tentang apapun, berbagai apapun kepada mereka disela-sela menunggu pelanggan yang menggunakan jasanya.
Menurutnya, kehidupan dahulu dan sekarang memnag cukup berbeda. Dahulu, beliau seakan tidak memiliki waktu senggang untuk istirahat karena harus melayani pelanggan-pelanggan yang membutuhkan tenaga beliau. Beliau memiliki pelanggan tetap. Tidak seperti sekarang, mungkin karena pengaruh umur jarang yag mau menggunakan jasanya. Seperti yang telah ia lakukan sebelumnya, beliau harus menelusuri sepanjang jalan demi ucapan “Mbah, bisa bantu bawa barang ini?”. Tapi, tidak hanya beliau saja yang merasa kesulitan. Menurutnya, banyak rekan-rekan seprofesinya yang mengalami hal demikian. Jarang pelanggan yang berkunjung menggunakan jasa buruh gendong, hanya beberapa penjual yang ingin mengantarkan barangnya ke ruko lain atau para pembeli grosiran.
Lanjut, beliau bercerita tentang penghasilan menjadi buruh gendong. Setiap hari beliau mendapat penghasilan sekitar 20-60 ribu. Kalau sedang ramai, beliau sampai bisa mendapat 100 ribu. Menurutnya, sudah menutupi semua kebutuhan itu lebih dari cukup. Jika ada tambahan, bisa untuk menambah memberikan jajan bagi cucu-cucunya. Itu kebahagiaan bagi mereka.
Dari hai ini, kami banyak belajar. Kami mengasah keterbukaan dengan hal yang ada diluar diri kami. Tidak hanya melulu tentang kertas dan polpen, tapi juga di luar sana ada orang-orang yang mengadapi kehidupan keras dengan senyumnya.  Ini adalah sebuah gambaran kehidupan dari zero to hero, dari tak berdaya menjadi sebuah makna. Lansia buruh gendong yang kami temui memberikan pemahaman bahwa usia senja bukanlah sesuatu yang patut untuk menjadi stagnan tapi keberlanjutan itu masih ada maknanya, setidaknya untuk dirinya sendiri. Tidak pudarnya beberapa prinsip perjuangan dalam hidup seperti kerja keras, pantang menyerah, mandiri (tidak menyusahkan orang lain) menjadi pandangan baru bahwa usia senja tidak sesenja sore yang menjelang siang yang perlahan matahari tenggelam hilang dan gelap. Tidak demikian. Karya masih tetap berkobar dalam renta tubuh dan mental.
Dukungan sosial merupakan kebutuhan yang ada di sepanjang kehidupan manusia. Karena memang manusia merupakan makhluk sosial, kehadiran orang lain di sekitar kita merupakan kebutuhan yang tidak bisa dinafikan. Beberapa alasan yang diungkapkan oleh subjek kami adalah tentang ‘teman’. Seberapa beratnya sebuah kehidupan asal ada teman no problem at all. Hal ini mengingatkan tentang sebuah filosofi jawa mangan ora mangan sing penting ngumpul atau sebuah filosofi yang cukup terkenal musuh satu terlalu banyak, teman seribu terlalu sedikit.

Pekerjaan yang digeluti para lansia ini tidak hanya mengantarkan pada berkumpul dengan teman, tapi mengusir kata kesepian dalam kamus kehidupan. Kesepian yang menjadi momok menakutkan pada usia senja, seketika hilang bagai terguyur hujan di musim kemarau dan hal ini tentu meningkatkan keinginan untuk tetap melanjutkan hidup. Demikian kiranya.


#onedayonepost #ODOPbatch5


Komentar

Postingan Populer