Resensi Kumcer

Cinta dalam sisi yang paling gelap

Identitas Buku
Judul Buku : Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri
Pengarang : Bernard Batubara
Genre : Roman
Tahun Terbit : 2015
Penerbit : Gagasmedia
Kota Terbit : Jakarta
Jumlah Halaman : 293
ISBN : 979-780-771-1

“Aku tidak sepakat dengan banyak hal, kau tahu.
Kecuali, kalau kau bilang bahwa jatuh cinta
adalah cara terbaik untuk bunuh diri.
Untuk hal itu, aku setuju”
-Bara-
Siapa yang tak mengenal cinta? Cerita indah tanpa akhir. Berbicara tentang cinta, memang tidak pernah ada matinya. Apalagi dalam dunia sastra, seolah setiap zaman merupakan ruang hebat untuk lantai dansa cinta dan kata. Kita bisa mewarnai cinta dalam bentuk apa saja. Lalu mengabadikannya dalam cerita-cerita luar biasa, seperti yang dilakukan oleh Bernard Batubara dalam kumcernya yang berjudul  Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri. Ada 15 cerita pendek yang disajikan oleh penulis yang memperkenalkan diri dengan nama pendeknya, Bara, yakni :
Hamidah Tak boleh Keluar Rumah
Nyanyian Kuntilanak
Seorang Perempuan di Loftus Road
Hujan Sudah Berhenti
Bayi di Tepi Sungai Kayu Are
Seribu Matahari Untuk Ariyani
Langkahan
Meriam Beranak
Lukisan Nyai Ontosoroh
Bayang-bayang Masa Lalu
Orang yang Paling Mencintaimu
Nyctophia
Bulu Mata Seorang Perempuan
Menjelang Kematian Mustafa
Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri
Inilah kisah dalam kisah. Mengapa tidak? Ada beberapa kisah dalam kumcer tersebut merupakan kisah yang seolah dapat terdengar lewat udara, suara. Seolah tokoh dalam cerita tengah berkisah secara tatap muka. Hal kedua yang membuat menarik dari buku in adalah penjelmaan penulis yang sukses untuk menjadi siapa saja. Mampu menjadi seorang perempuan dengan penuh rasa penantian dalam Seorang Perempuan di Loftus Road atau mampu menjadi seorang anak autis yang memuja cinta dari seorang anak perempuan dalam Seribu Matahari Untuk Ariyani dan masih banyak lagi bentuk penjelmaan Si Penulis.
Mengabadikan cinta dalam corak warna yang berbeda merupakan tujuan penulis. Tentu cinta memiliki beribu warna yang setiap orang berhak untuk menilai cinta dengan sudut pandang yang berbeda. Inilah kemerdekaan dalam sastra. Merdeka membawa kata dalam beribu makna sesuai isi pikiran individu masing-masing. Namun tidak untuk Bara dalam kisah-kisahnya ini, dengan tujuan memberikan corak berbeda dalam memandang cinta bukanlah sebuah kemerdekaan bagi para pembacanya, akan tetapi memberikan sudut pandang lain yang tentu merupakan sudut pandang pengarang itu sendiri. Kontribusi memaknai cinta membuat cinta memiliki warna lain selain beribu itu. Dan satu hal corak cinta yang tergambar dalam kisah-kisah yang ditulis Bara ini, cinta yang horor.
Cerita awal buku ini adalah Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah. Kisah ini dilakoni oleh dua orang laki-laki yang berbincang pada sebuah warung kopi, penjual dan pembeli tentunya. Kesan pertama membaca kisah ini ialah tentang masalah keperempuanan yang seakan terbatasi langkah kakinya. Namun ternyata ketika larut dalam kisah bersama Hamida, mengerti bila penulis hendak mengisahkan bagaimana kekuatan seorang perempuan. Perempuan telah terwakili oleh adanya Hamidah yang merupakan seorang wanita buruk rupa. Dalam kisahnya ia mampu menjelma menjadi rupawan karena doanya dan mampu menjadi buruk kembali karena harapannya. Intinya ia mampu menjadi apa yang ia inginkan dan tentu mampu melayangkan nyawa seseorang, suaminya pada kisah itu, sesuai dengan kehendaknya.
Kisah kedua tentu paling horor dari judulnya, Nyanyian Kuntilanak. Penulis, Bara, kelahiran Pontianak. Dan ia hendak menceritakan lewat kisahnya tentang pandangan masyarakat Pontianak terhadap makhluk horor yang bernama kuntilanak. Kuntilanak memberikan kontibusi dalam penamaan suatu daerah yang bernama Pontianak. Dalam kisahnya, diceritakan ada seorang sultan yang bernama Syarif Abdurrahman Alkadrei yang mengalahkan seorang kuntilanak dengan sebuah meriam. Penulis membawa kisah itu ke dalam romantisme yang mengharu-biru. Masih tentang cinta tentunya, tapi kisah cinta dan rindu seorang ibu dan anak laki-lakinya. Ibu yang diceritakan oleh Bara itu telah meninggal dan menjelma menjadi kuntilanak yang membututi seorang sultan muda dan anak laki-laki  itu adalah  sultan Syarif Abdurrahman Alkadrei, anak ibu tersebut. Mereka bersatu dalam lagu yang sama. Cik cik periuk, belanga sumbing dari jawe... Datang nek kecibok bawa kepiting dua ekok...
Kisah horor ketiga yang tentu tak kalah seru adalah Nyctophilia. Cinta dan kebebasan yang menjadi dasar kisah ini. Di kota metropolitan barang tentu berbagai warna hidup telah disajikan di dalamnya. Apalagi kebebasan, menjadi warna yang menyelimuti hidup manusia. Dan tentu itu yang diagungkan. Kisah ini dibuka oleh percakapan dua pemabuk. Perempuan dan laki-laki. Mereka saling tawar menawar. Berhak kita berkenalan? Itu singkatnya. Namun tak dijelaskan oleh penulis bagaimana prosesnya, tiba-tiba para tokoh itu bertemu dalam sebuah rajang. Mereka bercinta. Percakapan-percakapan kecil dimulai di atas ranjang itu dan diceritakan adegan itu berlangsung sampai duapuluh kali. Dan percintaan yang kedua puluh ini yang menyikap tabir sosok perempuan nyctophilia, pecinta kegelapan. Setiap mereka bercinta, kegelapanlah yang diinginkan oleh sang perempuan. Akhirnya terbongkar dengan ketidaksengajaan alasan nyctophilia itu. Perempuan itu adalah laki-laki.
Dan bagiku kisah yang paling menguras keringat dan memberi makna cinta yang paling mendalam adalah yang berjudul orang yang paling mencintaimu. Kisah inilah yang ku maksud memberi warna cinta yang berbeda. Tentu dari semua kisah horor, ini yang paling horor bagiku. Cinta dalam balutan kegelapan yang lebab, itulah yang mampu menggambarkan kisahnya. Cinta yang penuh dengan bau anyir. Dalam kisah ini, terdapat kandungan psikologis. Seorang anak laki-laki semata wayang yang tubuh dalam keluarga yang berantakan. Ia pun menjalani kehidupan dalam dua bingkai yang berbeda. Sosok ayah yang paradoks, terkesan kasar tapi halus untuk anak laki-laki itu. Hingga akhirnya ia harus melihat Sang Ibu meninggal di tangan ayahnya sendiri. Satu lagi, ia melihat ayahnya menggila hingga juga membunuh anjing peliharaan hadiah ulang tahunnya itu dengan sebuah senjata api.
Lanjut kisah, anak laki-laki itu pergi dan menemui takdir baru, bertemu seorang perempuan yang bernama Miranda. Perempuan itu mengajarkan kehidupan, salah satunya adalah cinta. Mereka terjalin dalam percintaan. Miranda memiliki perilaku yang cukup membingungkan, tapi bukan untuk anak laki-laki itu. Perempuan itu selalu membunuh setiap teman kencan laki-lakinya, tepatnya setalah bercinta. Namun tidak dengan anak laki-laki itu, ia tak pernah sedikit pun melukai anak laki-laki itu. Kisah ini memiliki ujung yang dramatis dan psikopatis. Puncak kisah ini menjadikan begitu berartinya kesimpulan bagi kehidupan anak manusia. Miranda merupakan jembatan pertemuan anak laki-laki itu dengan ayahnya. Miranda membawa teman kencannya yang merupakan ayah anak laki-laki itu dan akhirnya anak laki-laki itu membunuh ayahnya, lalu berlanjut membunuh Miranda, kekasihnya. Semua itu berdasar pada kesimpulan bahwa hanya orang yang paling mencintaimu yang mampu membunuhmu.
Bara begitu lihai memainkan kisah dalam bukunya ini. Terdapat sesuatu yang tak terduga pada akhir kisahnya. Bahasa yang digunakan pun cukup indah, bagai membaca puisi yang menjelma dalam prosa. Kisah cinta yang gelap dan penuh anyir ini cukup direkomendasikan bagi mereka yang mencintai tantangan, bagi mereka yang senang melahap dunia mistis. Bukan tentang hantu yang memburu manusia, tapi mistisisme terletak pada warna cinta yang dibalurkan oleh bara.
Namun ada sedikit yang perlu digarisbawahi, ada beberapa cerita Bara yang tidak masuk akal. Kisah penantian seorang perempuan yang menjelma menjadi pohon dalam Seorang Perempuan Dalam Loftus Road itulah yang cukup ketara ketidakrasionalannya. Dalam romantismenya dapat dipahami, tapi maksud pohon yang menunggu cinta sejati terkesan mengada-ngada. Ada pula yang seorang bayi dalam pohon. Bukan dalam, tapi berasal dari pohon. Semua berjalan secara mistis dan tidak mampu diterima akal sehat. Dan adapula yang menggambarkan malaikat yang turun dari langit yang menjelma menjadi manusia yang judulnya menjadi judul buku ini. Tapi kedua kisah ini terselamatkan oleh kritik sosial terhadap kisah anak manusia di bumi ini.
Bagaimanapun, kisah Bara ini mampu mendebarkan jantung dan tangan yang membaca. Buku ini cukup direkomendasikan bagi mereka pencinta karya sastra yang menegangkan.
Yogyakarta, 24 Januari 2018
#onedayonepost  #ODOPbatch5

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer