Love Your Self
Tahukah kalian tentang hari
kesehatan mental? Then, kapan itu ? Mikir
keras ya? Jawabannya ada, guys. Hari kesehatan
mental itu selalu diperingati pada tanggal 10 Oktober. Oke langsung saja, tulisan
ini bukan tentang definisi atau sejarah dari hari kesehatan mental. Sekali lagi
bukan! Tulisan ini tentang kepedulian. Kenapa bisa begitu? Karena saya peduli sehingga
saya bertanya Mental, apa kabar mu? Atau
biar langsung ngena kita pakai kalimat mental
seberapa sehatkah kamu? Gimana, sudah dapat jawabannya? Sharing yuk. Hehehe
Pasti kita menginginkan kesehatan
pada jiwa kita, sebagaimana kita menginginkan kebaikan dalam diri kita. Nah,
untuk mengetahui seberapa sehat mental kita terlebih dahulu kita harus tahu apa
sih kesehatan mental itu? dan bagaimana orang bisa disebut memiliki kesehatan
mental? Kita sering ya mendengar ungkapan Men
sano incorpore sano atau akal yang sehat berada pada badan yang sehat. Darajat (1971) memberikan beberapa definisi
kesehatan mental sebagai berikut kesehatan mental adalah terhindarnya orang
dari gejala-gejala gangguan jiwa dan dari gejala-gejala penyakit jiwa. Pengertian
yang lebih luas, kesehatan mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri
dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan dimana
ia hidup. Kesehatan mental adalah pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan
untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang
ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagiaan diri dan orang
lain; serta terhindar dari gangguan-gangguan dan penyakit jiwa. Definisi
terakhir ini menyempurnakan definisi sebelumnya, yakni terwujudnya keharmonisan
yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan
untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi, dan merasakan secara
positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya.
Tarik napas, sudah. Apakah
keadaan mental kita sudah sesuai dengan definisi kesehatan mental di atas?
Kalian sendirilah yang mengerti
jawabannya. Beberapa kriteria yang mampu kita gunakan untuk mengidentifikasi
kesehatan mental sesuai pengertia di atas yakni, sehat mental itu :
1.
Terhindar dari gejala maupun gangguan kejiwaan
2.
Mampu menyesuaikan diri
3.
Mampu mengembangkan diri
4.
Keharmonisan dalam diri
Dalam kehidupan, kita tidak lepas
dengan yang namanya problematik kehidupan. Kehendak-kehendak kita atau bahkan
kebutuhan-kebutuhan kita belum tentu mampu terpenuhi. Semisal, ada orang yang
sedang kuliah, ia pun akan merasa lelah dan berkomentar Kapan hang-out, kalo tugas numpuk gini? Atau perasaan tugas kok nggak
kelar-kelar? Seakan semua itu menjadi beban. Namun ada pula yang
menginginkan bangku kuliah tapi keadaan belum memungkingkan, lalu menganggapnya
beban dan pada ujungnya mengatakan bahwa takdir itu tidak adil. Semisal lagi,
hubungan pacaran, apakah tentu bahagia bagi mereka yang pacaran? belum tentu.
Pernah dengar ada ungkapan Si dia tidak
jawab pesan ku, jangan-jangan.... atau kenapa
lama nggak ngangkat telfon? Lagi sama siapa sih? Dan masih banyak lagi
ilustrasi semacamnya. Dan bagi yang nge-jomblo, ia juga meratapi
ke-jomblo-annya yang mungkin sudah bertahun-tahun hingga lupa yang namanya
cinta, dan akhirnya ia berkata Nasib, gue
jelek, bego, hidup lagi, ngengatain diri sendiri.
Nah, ilustrasi di atas itu
sejatinya dari kita sendiri guys. Kita saja yang meng-galau-kan diri kita
sendiri. Siapa sih yang tidak menginginkan kehidupan yang sempurna yang setiap
keinginan atau bahkan kebutuhan kita terpenuhi. Mayoritas dari kita menjawab
mau serentak. Tapi apalah daya guys, tangan tak sampai. Cielah. Bukan, bukan pasrah ya. Kita saja yang belum mampu
mengendalikan diri kita, mau-maunya dikendalikan sama keadaaan yang serba tidak
mengenakan itu. Inget guys, bahagai itu sebenarnya pilihan. Bagaimana keadaan
kita, tetap selalu ada pilihan-pilihan untuk bahagia, sebanyak pilihan-pilihan
untuk merasa sedih.
Ada tips nih untuk kamu-kamu yang
hobi menggalaukan diri, simak yuk :
1.
Mengingat Tuhan yang maha esa
Ada beberapa
nasihat yang begitu saya sukai, bila
tidak ada tempat bersandar maka selalu ada tempat bersujud. Terkadang kita
merasa sendiri, guys. Entah mengapa jika kita memang butuh untuk menghempas
segala kesusahan, malah jalan buntu yang kita temui. Seolah ada jarak yang
membentang tiba-tiba dengan orang-orang tercinta sehingga kita tidak tahu harus
membawa kesedihan ini kepada siapa. Namun, tenang. Dunia ini ada yang
menciptakan dan mengatur. Ada kekuatan besar yang kita tidak bisa membayangkan
ke-Maha-annya. Tuhan yang maha esa. Dia selalu membentangkan tangannya untuk
kita, di setiap sujud kita di sela-sela malam yang dingin. Dia yang selalu
menjaga kita yang tiada pernah memalingkan wajah, sekalipun kita
mendurhakaiNya. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Semua akan terasa ringan
dengan bantuanNya. Hati kita akan damai. Kedamaian hati bisa memperbaiki
segalanya.
2.
Mencintai diri
Jika bukan kita
yang mencintai diri kita terlebih dahulu, siapa lagi? Mau nuntut orang lain dan
marah-marah jika mereka tidak mencintai diri kita? No guys, nggak perlu. Dengan
mencintai diri kita, kita pun bisa berbagai cinta dengan yang lain. Artinya
diri kita penuh cinta. Maka dari itu jangan artikan mencintai diri itu dengan
egois karena jauhhh sekali. Bagaimana mencintai diri?
§
Pahami diri kita, kenali ia lebih dekat lagi.
§
Setelah mengenali kita akan mengetahui kelebihan
dan kekurangan. Terima dan sadari mereka.
Syukuri kelebihan kita dengan tidak menyombongkannya. Gunakan kelebihan kita
untuk menebar kebaikkan bagi sesama. Syukuri kekurangan kita, jangan
mengutuknya, karena Tuhan menciptakannya pasti ada maksud yang dikandungnya. Ingatlah,
semua baik untuk kita.
3.
Berusaha beradaptasi
Hal ini juga
perlu untuk menghadapi problema kehidupan. Jika kita ingin menghadapinya, maka
kita harus mengenalinya terlebih dahulu. Meleburlah bersama masalah itu dengan
mengikuti bentuk maupun gerakannya. Pelajari. Kita bisa menganalogikannya
dengan air dalam wadah. Kita misalkan diri kita air yang meliuk-meliuk
tenang pada wadahnya, wadah ini lah
problemanya. Setiap sentuhan air meliuk, ia tengah mempelajarinya. Mempelajari
teksturnya, warnanya, baunya, dan terbuat dari apakah dia. Jika sudah, maka
kita ambil keputusan untuk menyelesaikannya semudah air melesat dalam wadahnya.
Yang terpenting itu, Keep Calm guys.
4.
Positive
thinking
Dengan apapun
dan siapapun kita harus ber-positive thinking.
Dengan Tuhan, kita berpositive thinking bahwa Dia menciptakan kita dengan misi
yang mulia. Ada rahasia-rahasia Tuhan yang indah saat Dia memutuskan
menciptakan kita. Yuk, jemput janji-janjiNya. Tenang janjiNya lebih real dari pada janji-janji para wakil
rakyat. Eh. Dengan diri kita, kita ini berguna dengan berbagai kelebihan dan
kekurangan kita. Mereka membuat formasi yang indah. Mereka bersatu untuk
mengajari ilmu pengendalian diri. Bersyukur dan bersabar itulah inti yang
ditelurkan mereka. Semua baik untuk kita. Bayangkan jika kita hanya mengetahui
kelebihan kita, maka kesombongan itu yang akan menjadi ujian bagi kita.
Sebagaimanapun jika kita hanya melihat kekurangan kita. Maka dari itu seimbangkan
ya guys. Ber-positive thinking dengan orang lain, urgen juga guys. Dengan ber-positive
thinking kita menghalang-halangi benteng perbedaan yang mengganggu silaturahmi.
Dengan awetnya silaturahmi kebahagiaan hidup lengkap bagi kita, saling berbagi
cinta dan kasih.
5.
Everything
will be ok
Ini keyakinan
mujarab untuk bertahan dalam situasi apapun, Everything will be ok. Jika kita tidak punya uang saku hari ini, everything will be ok, puasa dulu lah
sembari cari kerja atau pinjaman. Ada masalah sama senior, everything will be ok, Keep Calm and be nice person to them.
Jika ada yang mendhalimi kita, everything
will be ok, aku akan tetap baik dengannya. Itu yang membedakan kita.
Tetap jalani hidup ini dengan
nyaman guys. Menjadi baik memang tidak mudah, tapi kita punya sabar sebagai
obatnya. Sabar pun tidak mudah, tapi kita punya pikiran-pikiran positif untuk
meraciknya. Tuhan menguji kita tidak melampaui batas kemampuan kita. Nah,
baiknya lagi setelah kita melampaui ujian itu, Dia mengangkat derajat kita
lebih mulia. Enak nggak tuh? Sudah
hati kita damai dapat bonus besar lagi, lebih besar dari bonus-bonus yang
ditawarin online shop langganan kita. Kalimat terakhir dari saya, mari di hari
Kesehatan Mental ini kita bersuka cita untuk meningkatkan level kesehatan jiwa
kita. Mengapa? Karena sehat badan itu belum cukup, cukupkan lagi dengan
memperbaiki kondisi mental kita untuk menjadi insan yang lebih baik dari
sebelumnya. Selamat hari Kesehatan Mental, Kawan.
Referensi
Darajat, Zakiah. 1971. Islam dan
Kesehatan Mental. Jakarta : Gunung Agung
Langgulung, Hasan. 1986. Teori-teori kesehatan
mental. Jakarta: Pustaka Al Husna

Komentar
Posting Komentar