Resensi Novel

Kecantikan Overdosis
Identitas Buku
Judul : Cantik Itu Luka
Pengarang : Eka Kurniawan
Genre                    : Roman-sejarah
Jenis Buku    : Novel
Tahun Terbit          : 2016
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Kota Terbit : Jakarta
Jumlah Halaman : 479
ISBN : 978-602-03-1258-3

Kata ‘cantik’ selalu melekat pada setiap manusia. Entah itu laki-laki atau perempuan. Jenis keduanya itu selalu memburu kata ‘cantik’. Bagi seorang perempuan, kecantikan adalah kemutlakan. Ia harus disematkan kepadanya dimana kadarnya memang berbeda-beda. Dan mereka harus menerimanya. Sedangkan bagi seorang laki-laki dimana banyak yang mengatakan bahwa mereka makhluk visual, cantik itu hiburan tersendiri. Minimal enak dipandang.
Mungkin bagi seorang Eka Kurniawan, standar cantik itu yang levelnya begitu tinggi, tak terbayangkan. Dalam bukunya yang satu ini, kecantikan adalah ke-maha-an yang tak terfikirkan, bahkan saya bertanya siapa ini sosoknya. Bukan main pendeskripsiannya tentang kecantikan seorang perempuan. Kecantikan yang sempurna itulah yang coba Ia sajikan.
Teringat dengan petuah bijak bahwa ‘suatu hal yang berlebihan selalu berujung pada yang tidak menyenangkan’. Berkorelasi dengan alur pemikiran Eka Kurniawan, cantik yang disajikan dengan ke-maha-an itu melarutkan berbagai penyakitan dalam hidup tokoh-tokohnya. Pertama adalah tokoh dewi ayu. Ia adalah seorang perempuan yang cantiknya seantero jagat. Ia hidup pada masa kolonial. Ia adalah seorang anak  dari perempuan pribumi yang menjadi gundik dari seorang belanda. Pada masa peralihan penjajahan antara belanda dan jepang, Dewi Ayu mendapat nasib naas. Jepang yang memenangkan peperangan pada saat itu menyabotase apapun yang dimiliki oleh Hindia-Belanda, termasuk para perempuan.
Mungkin karena kejenuhan peperangan, mereka membutuhkan sedikit hiburan. Lagi-lagi hiburan itu adalah perempuan dengan kecantikannya. Semua perempuan-perempuan ranum yang masih mekar-mekarnya dikumpulkan dan dipilah-pilah dari segerombolan besar tawanan mereka. Akhirnya tersisalah beberapa perempuan sesuai dengan permintaan mereka. Termasuk Dewi Ayu di dalamnya.
Perempuan-perempuan itu dijanjikan iming-iming sebagai seorang anggota Palang Merah yang merawat luka para prajurit jepang. Namun, kecerdasan alami yang dimiliki oleh Dewi Ayu membuatnya memahami apa yang tengah terjadi. Terdapat ucapan yang menarik darinya, “Masalahnya, prajurit jepang tak butuh obat sakit perut,” Kata Dewi Ayu. “Mereka butuh orang yang bisa mengamputasi leher.” Karena celetukannya yang demikian, Ia harus dihadapkan pada antusias teman-temannya yang bertanya bagaimana mengamputasi leher prajurit Jepang seandainya kepala mereka terluka dan tak lagi berguna.
Karena janji selalu berakhir hanya menjadi janji, akhirnya mereka tak perlu repot-repot untuk mengamputasi kepala para prajurit Jepang. Sebaliknya, mereka harus dihadapkan pada nasib menjadi pelacur. Itulah nasib yang mereka hadapi karena kecantikan luar biasa yang mereka miliki.
Tokoh lain yang menderita karena kecantikan overdosis itu adalah cucu dari Dewi Ayu, Rengganis Si Cantik. Kecantikannya itulah yang dibayar mahal oleh kepolosan bahkan terkesan idiot. Karena kecantikannya itulah mengakibatkan  nyawa melayang dan garis nasib kehidupan seseorang bergeser. Termasuk garis nasib kehidupannya sendiri.  Dengan demikian, tak berlebihan jika menyebutkan bahwa Eka Kurniawan telah berhasil menyampaikan maksudnya tentang Cantik Itu Luka.
Kecantikan overdosis itu pula disajikan dengan sejarah-sejarah panjang Hindia-Belanda. Dari masa penjajahan belanda, penjajahan jepang, sampai pemberontakan para orang-orang komunis. Sejarah ini disajikan dengan alur yang begitu mengalir dengan dialog dan deskripsi.
Meski ini sejarah, buku ini tidak diperuntukkan bagi mereka yang belum mampu memilah mana baik dan buruk. Buku ini tidak diperuntukkan bagi mereka yang masih membutuhkan orang lain untuk menyajikan segala kebutuhannya. Buku ini tidak diperuntukkan untuk umur yang tidak tergolong dewasa.
Buku ini menyajikan kata-kata yang cukup vulgar dan cenderung kasar. Saya meyakini bahwa ini juga termasuk tujuan penulis yang memilih area bidikan bagi pembaca bukunya. Kembali saya tegaskan, buku ini dilarang bagi mereka yang masih di bawah umur.
Sedikit saya ingin berbagi pada kalian semua, bukan bermaksud menggurui. Setiap hal selalu memiliki sisi positif-negatifnya masing-masing. Mungkin ini sedikit klise, tapi biarlah, ambilah sisi positif dari setiap hal. Karena apa yang kalian masukkan dalam diri kalian, itu adalah kalian.  Sekian.
Yogyakarta, 26 Januari 2018

#onedayonepost  #ODOPbatch5

Komentar

Postingan Populer