Cuitan

Cuit-cuitan selalu terdengar sepanjang waktu berdetak yang, Kawan. Cuitan ini mengalahkan cuitan burung yang hanya di pagi hari. Tapi, setidaknya kita adalah manusia-manusia bijak yang mengolah cuitan ini dengan baik. Meski di luar sana banyak bahkan ribuan manusia yang membuatnya jadi degungan yang tak karuan.
Oke, karena keseringan nontonin TV di era libur ini (meliburkan diri) saya seakan diwarnai oleh tayangan-tayangan yang terserap dalam akal saya berkat mata saya. Mungkin ini juga kebiasaan kawan-kawan di sana? Saya tidak sedang ingin menggurui karena saya sendiri bukan guru. Entah apa namanya, semoga menganggapnya menjadi berbagi. Akhir-akhir ini layar televisis dihiasi oleh berita tentang kisah tragis seorang ibu dan 3 anaknya. Dikisahkan bahwa seorang ibu itu telah membunuh ketiga anaknya dan melakukan bunuh diri untuk dirinya. Ketiga anaknya ditemukan dalam keadaan wafat mengenaskan, sedang Sang Ibu terselematkan.
Kisah ini diprologi dari nasib yang mungkin kurang menguntungkan. Sang Ibu harus menjalani hidup sendiri dalam mengasuh ketiga anaknya  lantaran sikap suaminya yang tidak bertanggung jawab. Terdengar, Sang suami menelantarkan rumah tangganya pertama dan membangun ruma tangga lain dengan anggota yang lain. Entah apa yang menjadi ombak rumah tangga itu, Sang Istri terhinggapi perasaan tertekan yang mengerikan sehingga berakhir pembunuhan dan percobaan bunuh diri. Perasaan tertekan yang mengerikan itulah yang dikenal dengan depresi.
Depresi tidaklah masalah yang mudah, semudah kita menyebut namanya (saya sering mendengar orang-orang secara awam menyebut dirinya atau orang lain depresi). Depresi mempengaruhi perilaku kita, juga pengambilan keputusan kita. Seperti yang dilakukan oleh Sang Ibu di kisah atas tersebut. Ia menderita depresi lantaran tekanan akan hidupnya. Namun, kisah Sang Ibu itu bukanlah kisah pertama atau bahkan terakhir. Kisah ini seakan mempertambah deretan permasalahan manusia terkait dengan depresi. Bahkan, ini dapat dianalogikan dengan fenomena gunung es. Keberadaannya sangat besar terdalam.
Lalu, apa sih depresi itu ? Saya mengutip dari salah satu jurnal, yakni suatu gangguan yang terjadi akibat suatu kesedihan yang sangat mendalam. Perasaan tersebut muncul karena kecewa mengalami situasi yang sama seklai tak terduga dan tak diharapkan terjadi dalam hidupnya. Manusia yang menhalami hal ini makan akan merasa tidak berdaya di atas kemampuan dirinya. Gangguan ini mengakibatkan perilaku kriminal seperti pembunuhan ataupun bunuh  diri  (Razak, Mokhtar, & Sulaiman, 2013). Penjelasan ini cukup berkorelasi dengan permasalahan yang akhir-akhir ini kita saksikan.
Jika memang berakibat fatal demikian, lalu bagaimana untuk bisa mengatasi depresi tersebut. Ada dua hal yang harus disoroti di sini yakni penanganan kita terhadap orang lain dan diri kita. Ketika kita menghadapi orang-orang terdekat kita yang sedang mengalami depresi, salah satu senjata andalan yang kita perlukan adalah cinta. Entah memang ini cukup klise, tapi memang inilah obat segala penyakit yang dimiliki manusia. Berikanlah cinta. Cinta membawa kita memahami apa yang mereka rasakan. Kita tidak menghakimi bahkan mencari kesalahan atau kita tidak bertanya mengapa dan bagaimana yang saya yakin pertanyaan ini cukup mengganggu di kala merasakan kesedihan. Dengan cinta, kita cukup hadir di sampingnya dan memberikan dukungan sepenuhnya. Cinta seakan memiliki peralatan yang multidimensi untuk menjadi penawar luka.
Selanjutnya, bagaimana ketika diri kitalah yang terserang depresi? Ada beberapa tips yang subjektif sekali karena versi saya.
Mendekatlah kepada yang Maha Cinta
Kita tak perlu menjadi pengemis cinta, bukan? Tidak perlu. Karena hidup ini diciptakan oleh Yang Maha Cinta, pemilik cinta yang sesungguhnya. Mendekatlah kepada Yang Maha Cinta, serahkanlah segalanya dan gunakanlah waktu yang demikian untuk muhasabah diri kita tentang persahabatan kita kepada Yang Maha Cinta.
Tetap tenanglah
Apa yang terjadi, terjadilah. Itulah rumus kehidupan. Sesempurna apapun kita merencanakan hidup kita, yang terjadi itulah yang terjadi. Memahami rumus tersebut akan membuat kita tidak syok jika hidup mengkhianati rencana kita atau harapan kita.
Lakukan yang terbaik
Gunakanlah potensi kita! Jangan sia-siakan, karena kita makhluk yang sempurna. Lakukan yang terbaik selalu dengan versi kita, bukan orang lain. Serahkanlah segalanya pada kemampuan kita dan biarkan Tuhan yang menilai usaha kita.
Senyumlah
Bagiku, dalam keadaan apapun, tersenyum dapat meredakan segalanya. Cobalah!

Inilah yang dapat saya gurukan kepada Kawan semua. Semua dengan kekurangan dan kelebihan saya, saya harap kita selalu menjadi kawan.

Pati, 23-01-2018

#onedayonepost  #ODOPbatch5

Referensi
Razak, A., Mokhtar, M. K., & Sulaiman, W. S. W. (2013). Terapi spiritual islami suatu model penanggulangan gangguan depresi. Jurnal Dakwah Tabligh, 14(1), 141–151.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer