PUISI
Ah, Kesombongan Ledakan Kecil
Oooo....
Banyak yang meneriaki mu
Ooooiiii..... gkgkgkg
Banyak yang memanggilmu
Plok! Plok! Plok!
Banyak yang menyanjungmu
Ke sana ke mari lihai meneriaki mu
Tertawa lebar melihatmu menghempas ke jantung malam
Gelap, itu bukan rintangan
Bahkan kawan
Oooooiiiii....
Sekali lagi meneriakimu, memanggilmu, menyanjungmu
Tak pernah kau balas, meski dengan sekedar tersenyum manis
Bahkan retorika ramah, tidak pernah
Hingga ku yang mendengar sedikit mengulum senyum
Menyunggi senyum melihatmu meluncur di jantung gelap
Kau, kau sombong sekali
Seperti diriku dahulu sebelum menyerah di kursi roda ini
Mati
Yogyakarta, 18 Januari 2016
Rindu
Pemandangan ini memang tak kan pernah menjadi asing
Melukis langit di sana dengan berbagai percikan nyala api
Bagai memucahkan segenap keriangan dalam gelap yang pekat
Gelap, tepat pukul 01.00 dini hari mereka meluncur bergemuruh bergantian
Untuk malam ini saja
Dan akan ada lagi setelah penghabisan satu tahun ini
Ledakannya hampir sebanding lurus dengan ledakan hati kami yang memandangnya
Berbagai warna seperti luapannya
Entah warna itu asyik atau pahit, tiada yang mampu menerka
Yang terlihat hanyalah wajah kami dibawahnya, memandangnya dengan tatapan berbinar
Tapi, di sini nanar
Nanar karena sebuah kerinduan
Katakanlah kerinduan yang membunuh harapan, dan menjelma putus asa
Menunggu dalam kerinduan yang entah kapan mampu pudar
Ku rindu kau dan dirinya
Percikan api yang ku rindukan tetap masih menyimpan harapan
Tapi dirinya, entahlah...
Tega membiarkan kerinduan ini membusuk dalam relung hati
Tanpa terkuap meski dengan ucapan Apa kabar?
Ma, kapan pulang?
Yogyakarta, 01 Januari 2016
Oooo....
Banyak yang meneriaki mu
Ooooiiii..... gkgkgkg
Banyak yang memanggilmu
Plok! Plok! Plok!
Banyak yang menyanjungmu
Ke sana ke mari lihai meneriaki mu
Tertawa lebar melihatmu menghempas ke jantung malam
Gelap, itu bukan rintangan
Bahkan kawan
Oooooiiiii....
Sekali lagi meneriakimu, memanggilmu, menyanjungmu
Tak pernah kau balas, meski dengan sekedar tersenyum manis
Bahkan retorika ramah, tidak pernah
Hingga ku yang mendengar sedikit mengulum senyum
Menyunggi senyum melihatmu meluncur di jantung gelap
Kau, kau sombong sekali
Seperti diriku dahulu sebelum menyerah di kursi roda ini
Mati
Yogyakarta, 18 Januari 2016
Rindu
Pemandangan ini memang tak kan pernah menjadi asing
Melukis langit di sana dengan berbagai percikan nyala api
Bagai memucahkan segenap keriangan dalam gelap yang pekat
Gelap, tepat pukul 01.00 dini hari mereka meluncur bergemuruh bergantian
Untuk malam ini saja
Dan akan ada lagi setelah penghabisan satu tahun ini
Ledakannya hampir sebanding lurus dengan ledakan hati kami yang memandangnya
Berbagai warna seperti luapannya
Entah warna itu asyik atau pahit, tiada yang mampu menerka
Yang terlihat hanyalah wajah kami dibawahnya, memandangnya dengan tatapan berbinar
Tapi, di sini nanar
Nanar karena sebuah kerinduan
Katakanlah kerinduan yang membunuh harapan, dan menjelma putus asa
Menunggu dalam kerinduan yang entah kapan mampu pudar
Ku rindu kau dan dirinya
Percikan api yang ku rindukan tetap masih menyimpan harapan
Tapi dirinya, entahlah...
Tega membiarkan kerinduan ini membusuk dalam relung hati
Tanpa terkuap meski dengan ucapan Apa kabar?
Ma, kapan pulang?
Yogyakarta, 01 Januari 2016
Wonder
Terkesiap dalam gulita
Gulita yang berhiasan melodi warna-warni di angkasa
Menakjubkan! Menakjubkan! Benar -benar menakjubkan!
Di kala aku bersiap untuk lari meninggalkan gulita
Secercah hiasan langit warna-warni mengambil peran
Indahnya bukan main! Oh....
Entah dengan apa aku memanggil nama mu
Di setiap bibir manusia telah teruai nama ‘ntuk memanggilmu
Di setiap hati insan bernyawa telah terukir dengan pesona mu
Oh kembang yang berapi...
Kembang jadi-jadian yang menakjubkan!
Kembang yang mengeluarkan api? Entahlah!
Atau kembang yang berapi?
Ataukah kembang yang berapi-api?
Persetan apapun namamu!
Namun, kau indah bukan main! Oh....
Tapi sayang beribu sayang
Nyawamu tak setebal helaian benang, tak sepanjang rantai harapan
Karena esok hari kau hanyalah bangkai yang terbuang
Di saat matahari menyongsong fajar
Yogyakarta, 2 Januari 2016
*puisi-puisi ini diikutkan dalam kompetisi menulis puisi bersama Ellunar Publisher. Puisi Ah... Kesombongan Ledakan Kecil masuk dalam nominasi puisi terpilih.
Kesan menulis puisi-puisi ini adalah menegak kopi dimana lambung mengalami kenaikan asam. Berkesannn~


Komentar
Posting Komentar