ESAI

                                                                                                          Yogyakarta, 20 November 2015
                                                                                                                        10.12 pm

Maha suci Allah yang telah menciptakan makhluknya yang memiliki jiwa yang mulia. Sampai kapan pun tetap selalu ada wakil Allah yang mencoba untuk menyelaraskan bumiNya. Dan begitu mulia wakil tuhan itu, sehingga tidak berlebihan menyandang waliyullah atau kekasih Allah.

Setelah berkenalan dengan Syeh Yusuf al Makasary al Bantany dalam buku Tahun-tahun yang hilang, dan Gurata (murid Syeh Yusuf al Makasari al Bantany) bersama para daeng dalam buku Rindu, ku berjumpa kembali dengan seorang kekasih Allah yang tidak kalah mengharu biru kisah hidupnya dalam buku Api Tauhid yang ditulis oleh penyabet gelar penulis nomer wahid di Indonesia, Habiburrahman El Shirazy atau sering disapa ‘Kang Abik’. 

Jika kau tengah bertanya tentang kisah manisnya menimba ilmu, kau bisa membuka kembali lembaran sejarahnya yang telah terkubur oleh peradaban. Jika kau tengah belajar bagaimana menjadi orang yang berani, kau harus berguru kembali dengannya lewat lembaran kisah hidupnya. Jika kau ingin menjadi sosok jiwa yang berani yang memiliki semangat yang membara untuk menegakkan kalamNya, maka selalu ucapkan pujian untuknya dalam membaca kisahnya, di saat kini tinggal nama. Begitulah aku menggambarkanya. Rodhiallahu anhu....

Ustadz Badiuzzaman Said Nursi lah yang tengah aku perbincangan. Aku terpana dengan goresan sejarah hidupnya. Memang sepantasnya Badiuzzaman melekat pada namanya. “Keajaiban Zaman” lah yang menjadi jalan hidupnya sebagai seorang laki-laki yang lahir di tanah Nurs. Kisah kecilnya mengantarkan ku untuk merasakan bagaimana manisnya meneguk ilmu. Beliau dari kecil begitu mencintai ilmu. Pemikirannya yang kritis dan analisisnya yang tajam yang mengantarkan beliau untuk melahab ribuan kitab. Sekitar umur 15 tahun, beliau telah membaca kitab yang seharusnya dilahab oleh mereka yang berumur 30 tahun. Kehausan akan ilmu itu pun mengantarkan beliau kepada beberapa guru yang juga begitu terpesona akan dirinya. Karena cintanya terhadap ilmu mengantarkan beliau menjadi sosok pemberani. Demi memuaskan keinginannya menimba ilmu, di umur yang cukup belia, beliau mengembara ke berbagai negeri hanya untuk memenuhi kehausan ilmunya. Hal itu pula yang membuat dirinya berdiri gagah menyerukan kebenaran meski bahaya berada di depan mata.

Keluasan ilmu tidak membuat Ustadz Badiuzzaman Said Nursi memikili sifat yang congkak. Meski telah berada pada level ulama di usia muda, beliau tidak menanggalkan pakaiannya sebagai orang kurdian hanya untuk memakai baju ulama mengantarkan beliau kepada status sosial yang lebih tinggi. Ketawadu’an selalu mengiringi peringgainya, hingga yang membuat ku cukup tersentuh yakni ketika seorang pelajar melihat sang kakak belajar dengan Said Nursi, Said Nursi berkata "Kami Sedang belajar bersama". Hal ini semata-mata demi melindungi harga diri sang Kakak. 

Kesalihannya pun, tentu, tidak diragukan lagi. Selama dua tahun tinggal bersama salah satu gubernur suatu wilayah di Turki beserta anak-anak perempuannya. Beliau selalu menjaga pandangannya. Tanpa pernah melihat sedikit pun wajah perempuan yang haram baginya. Hal itu lah yang pada zaman sekarang ini mungkin telah menjadi peraturan suci yang terbungkam bahkan terkubur oleh peradaban.

Keberaniannyalah yang mengantar Ustadz Baiduzzaman Said Nursi sebagai Sang revolusioner. Beliau memang hidup pada pintu zaman runtuhnya peradaban Islam yang telah lama memimpin dunia ini. Sungguh menyayat hati! Peradaban Islam yang cermelang itu dan telah memimpin ribuan waktu harus tunduk dengan tanpa daya hanya karena tipu muslihat yang licik dari mereka yang berpikiran miring itu. Itulah yang begitu disayangkan oleh Ustadz Baiduzzaman Said Nursi. Turki Usmani yang pada awalnya merupakan singa yang ganas dan garang harus menjelma sebagai singa yang meraung lemah kesakitan, hingga akhirnya harus mati mengenaskan. Runtuhnya Turki Usmani ini pun menjadi runtuhnya peradaban Islam. Hukum-hukum yang dahulunya benar-benar membawa kita semata kepada Allah, kini harus dihapus secara semena-mena hanya karena untuk memenuhi nafsu bejad manusia. Berawal dari dihapusnya ilmu agama dan digencarkannya ilmu pengetahuan yang sekuler. Perpindah-alihan fungsi bangunan sakral seperti masjid Aya sophia sebagai museum dan salah satu mesjid pada saat itu menjadi sebuah gudang. Kesesatan pun semakin merajalela dengan munculnya pesta dansa ala eropa yang digelar pertama kali di Aya Sophia. Perempuan dan laki-laki bercampur baur bak manusia ‘bar-bar’ yang tidak memiliki peraturan. Adanya kontes perempuan internasional yang menyajikan tubuh wanita yang terumbar auratnya pertama kali di negeri lahirnya para nabi. Hingga berujung pada penumpasan bahasa arab (khusus dalam membaca Alquran dan adzan) yang bertujuan untuk benar-benar menumpas Islam dari akarnya. Astaghfirullah....

Namun cahaya ilahi yang abadi, bagaimana pun kemelut awan itu berbondong-bondong untuk menutupi, tetap saja pancaran sinarnya bagai pedang tajam yang menyibak rimbunnya semak belukar yang terumbai tebal dengan sekali tebas. Semua itu berada pada diri Ustadz Badiuzzaman Said Nursi. Lewat berbagai tulisannya, Islam yang berusaha ditumpas dengan cara apapun tetap saja menyuarakan kebenarannya. Islam yang seolah tenggelam ternyata tetap bersinar dalam benak manusia-manusia yang mengenyam pemerintahan sekuler tersebut. Semua itu bersemayam dalam benak para pengikut Sang Revolusioner sejati itu. Hingga akhirnya, runtuhlah sistem jahanam tersebut dan tergantikan dengan sistem baru yang dinilai ‘baik’ dari berbagai pilihan-pilihan yang buruk. Meski tidak kembali seperti semula, setidaknya api tauhid yang dikobarkan oleh Ustadz Badiuzzaman Said Nursi ini membuahkan hasil. 

Kematian sang revolusioner itu lah yang merupakan kisah yang mengharu biru. Dunia yang butuh sosok seperti beliau harus secara rela dan ikhlash melepaskan beliau untuk melakukan perjalan ke Penciptanya. Semoga Allah selalu memberikan ridho kepadanya. Singkat cerita, pemakaman beliau sampai sekarang tidak bisa ditemukan oleh para pengagumnya. Mereka para manusia yang dilaknat tuhan telah mencoba menistakan jasadnya dan menyembunyikannya. Akan tetapi, tetap saja, harum bunga tak kan pernah dibohongi oleh apapun, apalagi ini harum namanya tidak akan pernah tergeser oleh kezaliman yang maha zalim sekalipun. Meski sekarang tidak bisa ditemukan dimana keberadaan jasad Ustadz Badiuzzaman Said Nursi, kebesaran namanya tidak akan pernah hilang oleh memori para pengagumnya. Dirinya tetap menjadi Sang Revolusioner sejati yang menyulut Api Tauhid yang membara atas nama hukum Allah agar tetap hidup. Allahua’lam bi shoab........

Komentar

Postingan Populer