CERPEN
Secangkir Jawa
Oleh : Dian Novita Sari
Semakin malam, angin berhembus semakin menelisik. Ku lihat
pelita yang menerangi kegiatan membacaku. Nampaknya ia bergoyang perlahan
berbarengan dengan pepohonan yang riuh karena terpaan angin. Ingin rasanya ku sudahi sesi membaca ku malam
ini dan berpindah ke dalam bilik untuk meringkuk dalam selimut. Namun, sayang
rasanya, karena bara penasaran belum surut untuk padam.
Ku
tengok simbok yang masih setia untuk menyeduh beberapa cangkir itu. sebelumnya,
aku telah membantunya. Namun karena ini adalah waktu belajar, ia menyuruhku
untuk berhenti. Ku pandangi tangannya yang telah termakan usia. Tangan yang
dulu pernah membuat lelaki seisi desa kagum terhadapnya, tangan yang membantu
perekonomian keluarga tentunya. Meski waktu telah menunjukkan pukul 22.00 WIB,
kedai kopi kami tak kunjung sepi. Tak seramai pagi ataupun senja hari,
setidaknya masih ada 5 lelaki yang tengah menunggu pesanan kopi simbok sembari
mengepulkan cerutunya. Riuh nian mereka bercerita. Mereka adalah warga desa
yang dapat giliran untuk berjaga. Ditambah 2 orang karena akhir-akhir ini kasus
perampokan dan pencurian tengah marak terjadi di desa kami.
“Jangan tutup dulu ya Mbok, setidaknya nunggu kita habisin
dulu kopinya” Ucap laki-laki bertubuh gempal yang akrab dipanggiil Om Ntong,
kepanjangan dari Gentong.
“Biasanya jam segini udah ndak terima pelanggan lagi, tapi,
ya, berhubung kalian lagi ngeronda ya ndak apa-apa lah. Kalo ndak ngopi juga
kasihan kalian juga tho, bakal ngantuk” Sahut Simbok dengan tidak beranjak dari
mencuci gelas-gelas.
Aku pun menutup buku dan bergegas untuk mengambil alih
pekerjaan Simbok.
“Hawa sekarang kelas berapa?” Tanya seorang laki-laki
berdarah Sunda yang akrab di sapa Mang Maman.
“Kelas 2 Aliyah, Mang” Sahut ku. Yang bertanya menjawab
dengan anggukan.
“Si Adam ndak pernah pulang, Mbok?”
“Pulang Mang, waktu lebaran. Hanya saja lebaran kemarin dia
tidak pulang, banyak urusan di Kota katanya”
“Owalah, pantes aku kemarin ndak ketemu sama dia”
“Emang sampean pernah di sini Mang, kalo lebaran?” Sambar Om
Ntong.
“Ya tidak...” jawabnya sambil nyengir. Mereka berlima pun
tertawa melihat salah tingkahnya Mang Maman. Simbok tersenyum sambil
geleng-geleng kepala.
Sebelumnya, ingin ku ceritakan bagaimana keluarga bahagia
ini. Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Benar, Mas Adam lah anak sulungnya.
Dahulu kami tinggal berempat. Bapak, Simbok, Mas Adam, dan Aku. Ketika Mas Adam
menginjak usia ku saat ini sedang aku menginjak kelas 3 Ibtidaiyah, Bapak pergi
mendahului kami. Beliau sakit, tidak seberapa parah, namun usia manusia siapa
hendak mengira. Sejak saat itu, kami bahu-mambahu memenuhi kebutuhan harian
kami. Untung masih ada kedai kopi sederhana peninggalan bapak yang sampai
sekarang tak surut jua pengunjungnya.
Tak terasa malam telah menunjukkan waktu yang cukup larut.
Simbok dan aku bergegas menutup kedai kami. Dibantu oleh mereka berlima yang
membantu memasukkan kursi-kursi dan menutup pintu kedai yang cukup berat itu.
Mereka berterimakasih lalu bergegas melanjutkan tugasnya.
Di
dalam bilik yang berukuran tidak lebih dari 3X3 ini kami berdua menghempas rasa
penat akibat rutinitas seharian. Ku suka melihat rautan wajah Simbok ku ini.
Bagai setangkai bunga yang tetap berdiri kokoh dibatangnya, tiada berani angin
menyiurkannya bahkan menghempaskannya ke tanah. Wajahnya yang telah termakan
usia semakin menegaskan bahwa banyak asin garam kehidupan yang telah diecapnya.
Wajahnya yang layu namun tegas itu semakin menggoreskan kegigihan untuk tidak
berhenti menjalani hidup. Walau begitu tak lupa untuk mengingat kapan saja
badan ini akan dikandung bumi.
Desingan kipas angin
yang dibeli bapak sejak Mas Adam dan aku masih kecil menjadi bunyi latar yang
menggantikan desingan angin diluar sana.
“Belum tidur, Mbok?” Tanya ku yang melihat kerlipan mata
keriputnya.
“Belum bisa Nduk” Jawabnya tanpa meninggalkan tatapannya.
“Alhamdulilah, meski kedai kecil-kecilan seperti itu masih
bisa memenuhi kehidupan kita”
“Tidak hanya kebutuhan sehari-hari saja, Mbok, tapi
mengantarkan Mas Adam dan Hawa mengeyam pendidikan”
Simbok menyungging senyum. Dari raut wajahnya, terlihat ia
sedang mengingat beberapa memori yang terpendam dalam memorinya.
“Simbok mengingat waktu kamu masih dalam kandungan dan Mas mu
Adam masih kecil, simbok menceritakan kisah kehidupan Simbok dan Bapak”
“Cerita lagi, Mbok”
“Kan, udah tho?”
“Iya, waktu Hawa masih dalam kandungan” Gerutu ku. Simbok
tertawa melihat anak yang seakan seperti semata wayangnya itu memanyunkan bibir.
“Sebenarnya, kedai ini sudah ada lama sekali. Kedai ini milik
keluarga Bapak mu. Tepatnya, kedai ini berdiri waktu Bapak mu masih kecil.
Kedai satu-satunya zaman dulu. Sebelumnya, tidak mudah kita mencari apa yang
dikata sebagai kopi. Alih-alih sudah berupa minuman, memegang bijinya saja
susah payah. Tidak boleh sama kompeni. Kakek buyut mu dulu bekerja dibawah
kompeni, jadi petani kopi. Dari sini, beliau penasaran apa istimewanya biji kecil
ini. Dan juga beliau penasaran apa yang sering para kompeni itu minum setiap
menjelang pagi. Aromanya yang sedap. Warnanya yang pekat, yang kalau anak gaul bilang
sekarang sangat eksotis”
Aku cekikikan saat Simbok bilang anak gaul. Dari mana ia tahu
anak gaul.
“Dan juga, ada kisah heroik yang membawa kita mampu merasakan
kopi tersebut. Sebenarnya banyak jenis dari kopi itu sendiri, dan Simbok tak
tahulah apa namanya. Tapi ada satu jenis kopi yang begitu Simbok suka dengar
kisahnya. Kopi luwak. Karena sikap penasaran para pribumi zaman dahulu akan
nikmat kopi, merekan pun tak segan mengambil biji-biji kopi yang berceceran
dengan kotoran luwak. Pada saat itu, luwak adalah hama bagi tanaman kopi.
Alamak... mereka terkesima semua, bahkan yang telah meminum berbagai jenis
kopi, tak disangka begitu nikmat biji kopi beserta kotoran luwak itu kala
disedu. Jadilah, fenomenal kejadian itu. Kopi luwak menjadi gaya kehidupan baru
bagi mereka”
Aku
pernah membaca kisah itu, namun tetap saja aku dibuat terkesima karena pancaran
bangga yang tergurat dari orang yang ku cinta ini.
“Sampai sekarang kita masih melestarikan kopi luwak itu
dikedai kita?” Tanya ku yang tanpa sadar ikut merasa bangga.
“Tentu hawa”
Kami punya lahan untuk tanaman kopi. Meski tidak luas, ah...
katakanlah sempit. Dan kami tentunya punya luwak yang liar di sana, yang selalu
kami tunggu kedatangannya.
“Biarlah, kopi itu dimakan luwak. Hendaknya kita tetap
berbagi rezeki bagi makhluk Tuhan lainnya” Teringat seloloh kawan ku dulu
dengan ikhlas melihat biji-biji kopinya dimakan luwak liar tanpa tahu bahwa hal
itu membawa berkah baginya.
Kami hening sejenak. Aku membiarkan Simbok bernostalgia
dengan semua ingatannya. Aku pun mencoba menerka apa yang tengah dipikirkannya.
Dan aku mengeluarkan cekikikan yang mencurigakan bagi Simbok. Ia pun menoleh ke
arah ku.
“Bagaimana kabar Mas mu ya, Nduk? Sudah lama rasanya tidak
melihat dia”
Memang, sudah dua tahun Mas Adam tidak berkunjung ke rumah.
Bagi Simbok, itu adalah waktu yang cukup panjang. Ditambah lagi tiada kabar
sama sekali.
“Mungkin sudah bahagia dengan Cik melati, Mbok” Jawabku asal.
Mas Adam memang sudah menikah. Ia menikahi seorang perempuan
berdarah Tiong hwa-Jawa. Gadis bermata sipit yang dulu melihat aneh ke arah
kami anak dusun yang berkulit sawo matang. Cik melati kala itu baru tinggal
beberapa bulan di Indonesia, tanah kelahiran keluarganya dari ibu. Dan di saat
itulah pemuda Jawa yang fasih bahasa cina itu, Mas Adam, memikat hatinya. Mas
Adam mempelajari bahasa itu secara otodidak. Semua bahasa yang ia pelajari, 3
bahasa asing tentunya, Cina, Inggris, dan Spanyol. Ia pelajari secara otodidak.
Salah satunya, terinspirasi dari olahraga sepak bola. Dan tentu, aku tidak tahu
namanya. Ah, gadis dusun.
“Semoga Nduk, Semoga” Ucap wanita yang paling aku kagumi
tersebut.
Ada serpihan ingatan yang membuat kening ku berkerut. Kedatangan
kaka Ipar ku pertama kali ke rumah kami. Terlihat memang, dari penampilannya ia
dari keluarga berada. Baju yang bermotif bunga-bunga, motif kesayangannya, yang
baru ku tahu terbuat dari sutra. Indah sekali. Aku sempat tertegun olehnya.
Namun, aku tersadar dengan peranggainya yang enggan masuk di rumah kami.
Mungkin tidak terbiasa, penjelasan Simbok yang mengurungkan prasangka
negatifku.
Selama menikah dengan Mas Adam, bisa dihitung ia berkunjung
dirumah kami. Terkadang hanya Mas Adam yang pulang. Dan hal itu tidak
menggusarkan rasa cinta kami terhadap keluarga Mas Adam yang baru. Beserta Cik
Melati yang cantik itu.
***
Pagi telah menyongsong. Matahari terbit dari ufuk timur.
Seperti biasa, kami tak pernah terdahului oleh cahaya mentari. Simbok bangun di
saat ayam bertemu dengan malaikat. Pernah dengar sebuah cerita, bahwa ayam yang
berkokok di kala fajar maka ia tengah melihat para malaikat yang turun ke bumi
untuk menebarkan berkah. Sedang jika keledai yang meringik di senja hari
menjelang maghrib, maka ia tengah melihat setan-setan yang keluyuran. Hal ini
ditambah dengan fakta bahwa ayam memang dapat melihat sinar ultraviolet yang
konon memang malaikat berbentuk sinar ultraviolet, sedang keledai dapat melihat
sinar inframerah yang konon setan berbentuk sinar inframerah. Simbok tidak lupa
dengan ritualnya, yakni solat tahajjud. Aku sering mengikutinya, tapi banyak
yang tidak juga.
Sehabis sholat subuh, kedai kami siap menampung lagi para
pengunjung. Meski kini telah berjamur kedai kopi di dusun lainnya, kedai kami
tak surut peminatnnya. Dari yang laki-laki beristri, sampai bujang lapuk
sekalipun mampir ke kedai kami. Tak hanya itu, para wanita pun tak surut
mengunjungi kedai kami.
“Aku lebih suka mampir di kedai ini ketimbang kedai kopi
sebelah. Meski kalo dihitung-hitung, jaraknya 2 kali lipat lebih jauh dari
rumah. Rasanya males melihat Si Centil itu, sudah bersuami pula tapi tetep
manja-manja gitu dengan laki lain. Ndak boleh suami saya ke sana. Ndak boleh pokoknya”
Rancau seorang wanita bertubuh gempal dan bergincu merah nyala itu. Seperti
biasa, Simbok meladeninya dengan caranya yang khas. Menyungging senyum dengan menggelengkan
kepalanya.
“Kopi di sini juga enak lho, Buk. Asli, wangi pisan. Terjangkau pula, 2 ribu kita
sudah dapat secangkir jawa ini. Pokoknya kenyang, apalagi ditambah gorengan
5ratusan. Ah, pokoknya yahut dah” Sahut
kawannya yang bertubuh ramping itu yang ku tahu telah beranak tiga.
Aku mendengarnya dengan bangga. Kedai yang prestisi
dikalangan para warga dusun, meski dengan dekor semua serba bambu dan beratap
alang-alang. Mengingat tentang harga, aku berselancar kembali dengan kehidupan
metropolitan. Kehidupan yang aku tahu dari hasil membacaku. Juga kehidupan yang
semu-semu membayangi keluarga kami. Di luar sana, aku meyakini, sekarang
berjejer kedai kopi yang elegan dan modern. Semua dibalut dengan merk ternama,
asing. Ditambah fasilitas yang memadai pula seperti gemerlap lampu yang
berkedip bergantian, sofa yang empuk, ruang ber AC dengan bumbu koneksi Wi-fi
menambah prestisi tampilannya. Bahkan ada yang berminat antri untuk mendapatkan
secangkir kopi dengan nama yang prestisius. Jika di sejajarkan dengan kedai
kami, jauh nian. Bila ingin menyamai atau bahkan menandingi sekalipun, bagai
pungguk merindukan bulan. tak berani berangan.
Cik melati pernah membawa beberapa botol minuman kopi semacam
itu. Mungkin ia lupa bahwa kami memiliki kedai kopi. Bermaksud untuk oleh-oleh,
begitu pikir Simbok dan aku. Juga, anugrah bagi anak dusun untuk tahu apa saja
yang tengah terjadi di luar sana. Diluar kebun, rumah, dan sekolah kami.
Sekolah anak dusun. Enak, kemasan bagus dan instan tentunya. Ah, itulah
sepenggal ingatan ku di pagi buta ini.
Hari ini hari senin, aku harus segera bergegas pagi-pagi.
Hari ini upacara bendera, semangat anak dusun yang tak pernah surut atas
euforia kemerdekaan. Aku kenal istilah ‘euforia’ dari sebuah artikel di surat
kabar, saat Indonesia tengah merayakan ulang tahunnya yang kemarin. Kata yang
aneh, tapi menarik. Yang membuat ku menganga ketika ku tanya artinya pada guru
sejarahku.
Simbok melirikku yang tengah asyik memasang topi upacara. Ya,
meski berkerudung, kami punya topi kebanggaan yang akan dipakai hanya di hari
senin pagi.
“Sudah segera berangkat sana, nanti ketinggalan rakit”
“Iya, Mbok... Kedai sudah siap kan Mbok? Tadi Hawa taruh
gorengan pisangnya di rak dapur. Sudah siap semua”
“Iya, terimakasih ya Hawa. Ini uang sakunya. Sekolah yang
pintar, biar kayak Mas mu”
Aku mengangguk mantap. Benar, cita-cita ku mengeyam
pendidikan yang tinggi, belajar di sana. Di kota metropolitan.
***
Siang membumbungkan panas yang tak berkesudahan. Kami didera
panas tersebut kala berlayar dengan rakit menyusuri sungai untuk pulang. Wajah
kami akan tambah legam kiranya, terpapar sinar mentari yang memantul dari air
dan meresak masuk dalam pigmen kulit kami. Kulit anak dusun. Aku tak sabar
hendak pulang, karena ku dapat surat kabar terbaru yang diberi oleh guru
sejarah ku. Ya, kami punya kesamaan. Sama-sama gila dengan bahan bacaan. Dia
tapi lebih gila, dan aku murid yang meniru kegilaannya.
Perjalanan pun berhenti di tepi tanah yang membumbung ke
atas, seperti tangga alami yang terbuat dari tanah liat di depan rumah ku. Langkah
ku gontai, seakan kalah dengan terjalnya jalan menuju rumah ku. Sudah nampak
oleh ku pemandangan sehari-hari. Ku temui, beberapa orang yang tengah menikmati
racikan kopi yang terlihat mengepul dari cangkir. Mereka menyeruput sembari
menikmati celotehan samping kanan-kiri mereka. Tidak nampak oleh ku Simbok.
Dimana kiranya? Aku pun bergegas melangkahkan kaki menuju rumah. Terdengar suara yang ku terka dari
perbincangan dua orang. Benar, perbincangan dua orang yang ku cintai. Mas Adam
dan Simbok.
“Assalamu’alaikum” Ucap ketika telah sampai di daun pintu.
“Wa’alaikumsalam” Jawab mereka serentak yang sekaligus
menghentikan perbincangan mereka.
“Mas Adam...” Panggil ku riang
“Apa kabar? Kok, baru ke sini?” Pertanyaan ku yang memborbardir
tanpa sempat mendapatkan jawaban. Mas Adam hanya bisa tertawa melihat kelakuan
adik perempuan.
“Alhamdulilah Hawa... Mas baik-baik saja. Maaf, baru sempat
menjenguk Simbok dan Hawa. Di sana, Mas baru banyak kerjaan”
“Dimana Cik Melati? Tidak ikut?”
“Mas sendiri ke sini. Cik mu masih di kota”
“Oh, lalu... Kabar Cik melati gimana? Sudah ada adek bayi?”
Mas Adam tertawa menampakkan gigi gingsulnya.
“Ah, Hawa banyak tanya saja. Sekarang, mending Hawa ke
belakang, ganti baju. Dan coba ambil makanan di warung. Kasihan, Mas mu,
mungkin sudah lapar” Ucap Simbok.
Aku pun tersenyum. Memang, ini kebiasaan ku yang datang
secara refleks.
Tanpa perlu banyak memakan waktu, makanan sudah ku hidangkan
di meja tamu. Meja dimana masih ada Simbok dan Mas Adam. Entah apa yang tengah
mereka perbincangkan, sepertinya menyita banyak waktu. Dan terlihat raut mereka
yang berat.
“Terimakasih Hawa...” Ucap Mas Adam saat aku meletakkan dua
piring tempe goreng dan pisang goreng.
“Mas bermalam di sini?
“Sepertinya tidak Hawa, Mas harus lekas balik lagi ke kota”
Aku memahami ucapannya. Meng-iya-kan dengan anggukan.
“Besok-besok kalau ada waktu lagi, Cik melati ajak ke sini
ya, Mas. Sudah lama kita tidak berjumpa”
“Insya allah..”
Sinar-sinar kemerahan telah menyiratkan bahwa waktu istirahat
akan segera tiba. Aktivitas manusia perlahan surut. Awan yang awalnya cerah
telah bergulung dan mengganti pakainnya dengan selimut tebal. Selimut gelap.
Angin yang menyisingkan panan pun telah memutar tombol minimum dan kini yang
terasa adalah desah angin yang resah yang seakan gundah untuk berganti. Burung-burung
yang bermigrasi kini nampaknya telah kembali dalam peraduannya. Ku lihat di
awan sana, di teras rumahku. Menunggu waktu maghrib, ditemani surat kabar yang
ku dapat tadi pagi dan buku yang kini tengah ku baca. Aku duduk di kursi bambu
kuning. Kursi dimana pertama kali aku bercerita tentang kami. Tentang kehidupan
ini.
Aku menghela napas panjang. Hembusan ku ini seakan menarik
penatnya kehidupan. Aku memang terlalu peka terhadap problematik kehidupan. Surat
kabar ini masih saja menyisakkan permasalahan yang urung terurai. Berjejer
permasalahan kehidupan yang membelenggu manusia. Entah itu dari golongan elit
yang bergelimpang kekayaannya. Permasalahan tak ujung surut jua. Apalagi bagi
kami yang kocek saja tak punya, sebagian akan menganggap bahwa hidup saja sudah
menjadi problematik yang tidak ketulungan.
Mengulur sepenggal kisah tersirat tadi siang. Sebuah
surat-surat resmi yang bertebaran. Dan semua itu butuh tanda tangan yang
berterbangan. Di meja tamu tadi siang. Di saksikan dua orang yang aku cintai.
Sebagai sosok yang masih muda, aku enggan untuk menunjukkan rasa penasaran itu.
namun hasrat bagai angin yang apabila datang, tetap memaksa jalannya. Dan
akhirnya aku menyesal setelah mengetahuinya. Perceraian.
“Biarlah, Mbok. Mungkin ini memang jalannya. Tak mampu lagi
Adam memenuhi semuanya. Apalagi kalian, Simbok dan Hawa yang masih butuh pula
bantuan dari Adam. Bukan beban, tapi kewajiban bagi Adam. Tak mungkin adam
menyiakan semua hanya karena hasrat dunia. Melati memang terlatih untuk seperti
itu. dan hal itu bertolak belakang bagi Adam” Ucap Mas Adam yang ku tangkan
dengan tidak sengaja.
Simbok mengangguk memahami. Dengan pemahaman yang benar,
seperti biasa, dengan kebijaksanaan menghadapi kami. Anaknya.
END
Blog post
ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory
Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Komentar
Posting Komentar