RESENSI BUKU
Perkembangan
:
Bayangan
Luka Pada Kehidupan Seorang Dave
Identitas
buku
Judul
Asli : The Lost Boy : a foster
child’s search for the love of a family
Pengarang : Dave Pelzer
Penerjemah : Danan Priyatmoko
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun
terbit : 2007
Tebal : 20 cm
Halaman : 332 halaman
Tidak
ada manusia yang bersifat stagnan. Tentu, dengan berjalannya waktu, apapun
komponen dalam diri manusia akan melakukan sebuah regulasi. Hal ini lah yang
melabeli manusia sebagai makhluk yang dinamis. Kedinamisan ini, kita bisa
menyebutnya dengan istilah ‘perkembangan’. Sebagai ilmu yang mempelajari
tentang manusia, Psikologi tentu tidak asing dengan istilah ‘perkembangan’.
Bahkan, terdapat cabang keilmuan ini yang mana khusus mempelajari perkembangan manusia.
Kita bisa menyebutnya dengan ‘Psikologi Rentang Perkembangan Manusia’.
Berbicara
tentang perkembangan, memori penulis mulai me-recall tentang sebuah referensi yang mana menyajikan suasana yang
berbeda dalam mempelajari perkembangan. The
Lost Boy, sebuah novel yang menyatakan dirinya sebagai sebuah kisah nyata
akan membantu kita untuk mengenal bagaimana perkembangan manusia dengan cara
yang menarik. Novel ini merupakan trilogi yang berkesinambungan. Hal ini lah
yang mengidentikan dirinya sebagai novel perkembangan manusia. Melalui novel
ini, Dave Pelzer sang pemilik kisah mencoba untuk memberitahukan kepada pembaca
bagaimana proses berkembangnya seorang anak manusia yang memiliki nasib yang
cukup naas. Sebelum menuju bagaimana kisah tersebut, ada hal yang cukup penting
untuk diketahui. Meski tidak terdapat label autobiografi, tapi novel ini bisa
dikatakan sebagai novel autobiografi, karena Dave Pelzer sang pemilik kisah itu
sekaligus menyandang sebagai anak manusia yang memiliki nasib naas pada masa
kanak-kanaknya.
Berawal
dari buku yang pertama, yakni Child
Called It, Dave menceritakan tentang seorang anak yang mendapat perilaku
kekerasan. Bukan dari orang lain atau lingkungan luar, melainkan dari sebuah
institusi yang kita bisa menyebutnya sebagai keluarga. Tepatnya, perlakuan
kekerasaan itu dilakukan oleh sosok Ibu. Secara singkatnya, Tokoh Anak ini
tidak mendapatkan pengakuan dari Sang Ibu sebagai seorang manusia. Berlanjut
pada bukunya yang kedua, The Lost Boy
menceritakan tentang proses penyelamatan
pihak sosial untuk tokoh anak yang tak lain bernama Dave dari lingkungan
keluarga yang buruk itu. Hal ini mengantarkan Dave kepada sebuah sistem
“asuhan” yang mana cukup dipandang sebelah mata oleh orang kebanyakan. Pada
proses ini, Dave menemui sebuah realita bahwa dia harus pandai-pandai untuk
menyesuaikan diri, karena sekitar lebih tiga kali dia harus pindah keluarga
asuh. Kebingungan untuk menetapkan kenyamanan pada arti sebuah keluarga pun
merasuki tubuh kecilnya. Rasa kecewa yang harusnya terobati itu malah seakan
ditambah oleh sistem semacam itu. Ketika dia telah menjalin rasa cinta pada
sebuah keluarga, terdapat kenyataan pahit yang meruntuhkan cinta tersebut,
yakni anak asuh tidak bisa lama untuk tinggal bersama orang tua asuh.
Selain
itu, masa tragisnya yang dulu ketika masih berada di rumah orang tuanya
mempengaruhi pola perilaku Dave selanjutnya. Dave seakan mengeksploitasi apapun
yang ada pada dirinya hanya karena sebuah label penerimaan terhadap dirinya
oleh lingkungan. Apapun Dave lakukan meski hal itu merupakan sebuah perilaku
yang dianggap buruk oleh nilai yang dianut lingkungan Dave tersebut, seperti mencuri dan
sebagainya. Hal inilah yang menyeret Dave untuk berhadapan kembali dengan
Ibunya di ruang sidang setelah sah Dave memenangkan perkara pada sidang
pertama. Namun, karena banyak dukungan yang datang, akhirnya Dave menemukan
dirinya dengan semestinya. Hal terpenting baginya adalah bahwa Dave telah
menemukan sebuah kepercayaan dirinya sebagai seorang manusia yang layak untuk
diperlakukan dengan baik. Di akhir cerita, kita akan menemukan cerita sukses
dari seorang anak yang hidup dengan penuh luka itu.
Kisah
ini tak hanya berlanjut pada novel kedua ini, melainkan ada proses lain yang
harus diikuti pada novel berikutnya yakni Man
Named Dave. Dari sini lah, tidak berlebihan bila menyebut novel ini sebagai
referensi tentang perkembangan manusia.
Sebenarnya,
novel ini tidak hanya berhenti pada masalah yang intern, yakni perkembangan.
Tetapi terdapat kritik sosial terhadap nilai ataupun realita pada setting tempat yang terdapat pada novel
tersebut. Kebetulan novel ini bukanlah jenis novel Indonesia, melainkan novel
terjemahan yang penulis bisa katakan yakni novel yang berkebangsaan Amerika.
Kita bisa mengetahui dari nama tempat yang tercantum pada setting latarnya.
Tidak
berlebihan bila buku ini direkomendasikan bagi mereka yang tengah memperdalami
tentang perkembangan manusia. Melalui tulisannya yang cukup mudah dimengerti
dan alur cerita yang runtut, mempermudah bagi mereka yang membacanya.
Penambahan kritik sosial pun menjadikannya memiliki nilai plus sebagai referensi ilmu perkembangan manusia, yang mana hal ini
cukup berbeda dari referensi lain yang ‘fanatik’ menjelaskan tentang
perkembangan manusia. Cukup menarik tentunya, sehingga ketika penulis
mempelajari tentang perkembangan manusia, novel ini bisa menjadi rujukan,
khusunya pendalaman kasus pada bidang perkembangan.
Dian Novita Sari,
Mahasiswi jurusan Psikologi semester III di Universitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga.


Komentar
Posting Komentar