CERPEN

Matahari di Tengah Malam
Senin, 18 Mei 2015
Pukul 6.30 am
Kulirik kalender yang berada di pojok ruangan kamar ku. Apa yang menarik? Tidak ada. Hanya sebuah kalender hadiah dari bank swasta tahun ini. Tak ada yang spesial. Akan tetapi cukup berpengaruh untuk sekarang. Tapi apa? Entahlah. Mungkin karena hari ini aku akan pulang ke halaman asal.
Surat izin ku untuk tidak mengikuti kuliah selama 4 hari akan sampai di tangan dosen ku sekitar pukul 7.00 am. Prediksi yang cukup akurat. Meski hari ini aku akan pulang, aku belum benar-benar berbenah dengan barang yang akan ku bawa. Aku tak membawa apa-apa memang. Sekedar tas kecil yang sering menemaniku untuk menjelajahi bumi dan waktu. Ya. cukup itu.
Ku membuka lemari ku dan mencoba mencari hal yang selama ini belum pernah aku lihat lagi. Alasan ku untuk pulang. Foto ini, foto sekitar 4 tahun yang lalu. Dua gadis ABG yang tak pernah mempunyai masalah. Mereka seakan tersenyum tanpa segan dan tidak sadar bahwa hidup itu sulit. Entah mereka tidak tahu atau pura-pura untuk tidak tahu. Aku jawab, mencoba untuk bodoh. Foto itu adalah fotoku bersama sahabatku, Rahmah saat SMP dulu. Bukan. Dia bukan hanya sekedar sahabat ku. Ia adalah teman lahir ku dan saudara ku karena dia lahir dari rahim tante ku. Kami selisih 2 bulan kelahiran.
Aku mencoba tersenyum mengingat bagaimana kita begitu tidak menginsafi hidup dengan tawa ini. Dasar anak labil, fikirku. Iya, alasan inilah aku pulang. Mencoba melihat kenangan yang sempat terpotong oleh ruang dan waktu. Ku ingin merajut kembali potongan-potongan itu, meski hanya sekedar untuk menginsafi saja.
Kami tidak pernah berpisah sebelumnya. Kami satu pondok pesantren, masuk bersama keluar pun minta bersama. Meski terkadang aku yang ngotot untuk bersamanya. Ia tipe gadis yang cukup riang dan pintar. Selain itu ia juga pekerja keras. Dalam membiayai sekolahnya, tak sepeser pun orangtuanya mengeluarkan uang. Untuk uang sakunya, ia bekerja part time di rumah tetangga sebagai penjaga warnet. Dari segi nasib, memang aku lebih beruntung. Aku lahir dari keluarga yang mampu. Ayah ku sebagai kepala desa dan ibu ku, perempuan terpenting di kelompoknya yang mana pasti selalu menyabet kedudukan sebagai ketua dari setiap arisan ibu-ibu. Aku cantik dan putih, mampu lebih banyak meraih perhatian sang kumbang. Meski kurang mampu di bidang akademik, tapi aku mampu menyabet piala dan berbagai penghargaan dari ballet. Ya, aku dididik untuk menjadi penari ballet.
Meski kami berbeda, kami tetap satu. Seperti semboyan indonesia “Bhineka Tunggak Ika”. Aku menyukainya karena ia lebih dewasa dari aku. Jadi aku seolah-olah memiliki sosok kakak yang dari dulu hingga sekarang sedang aku rindukan. Pernah suatu hari ia menolong ku dari serangga yang paling aku takuti, kecoa yang selalu ada di rumahnya. Entah rumah itu pernah dibersihkan atau tidak. Memang rumah itu jauh dari apa yang aku miliki. Tante ku ini memang tergolong mempunyai keluarga yang kurang mampu. Suaminya atau ayah teman ku ini berprofesi sebagai guru agama honorer yang terzalimi oleh gaji dan tenteku adalah guru ngaji desa ku untuk anak-anak setiap sore, tanpa upah. Tapi mereka cukup bahagia dengan keadaan mereka, semua itu terlihat dari perilaku mereka yang tetap keukeuh tidak mau menerima bantuan apapun dari keluarga ku. Jadi, terkadang keluarga kami pun ewuh dengan tetangga. Kami takut bila tetangga menilai kami saudara yang apatis dan tidak peduli dengan nasib saudaranya sendiri.
Kami tumbuh menjadi gadis yang cantik. Banyak dari para tetangga berkata bahwa kami memiliki wajah yang sama. Kami tidak kaget dengan pendapat seperti itu, memang kami masih saudara. Kecantikan kami mengantarkan kami ke gerbang kehidupan remaja. Seperti remaja biasa, kami mengenal cinta. Tentu, dengan wajah yang seperti ini banyak kumbang yang mendekati. Sehingga aku pun mengenal Doni, ketua osis yang selau dicoba dicuri perhatiannya oleh siswi-siswi lain. Rahmah berbeda, hijab besarnya melindungi dirinya dari godaan seperti itu. Ia tidak pernah tertarik dengan kehidupan semacam itu dan tetap fokus dengan prinsipnya yang kolot itu. Pernah kami terlibat dengan adu argumen yang cukup panas.
“Aku beruntung sekali ya, dapat cowok yang sekeren Doni. Coba bayangin, selama aku jadian dengan Doni, kakak kelas seakan segan padaku” celoteh ku di kala kami sedang bersantai di halaman belakang rumahku.
“Yakin seperti itu?” jawab singkatnya.
“seratur persen!!! Kemarin saja kakak kelas yang genk itu menyapaku ramah”
“emmm”
“kok gitu aja sih jawabnya?”
“Terus mau jawaban seperti apa?”
“Kamu iri ya?” ku colek lengannya “ Kamu juga kan cantik, terus banyak juga yang suka sama kamu apalagi tuh anak IPA penyabet piala olimpiade. Setahu ku, dia selalu ngasih perhatian sama kamu”
“emmm, hahaha”
“Lha kok ketawa?”
“Kau tak ingat bagaimana kau ingin masuk di SMA favorit ini?”
“Tidak...”
“Karena kau tak memiliki motivasi. Iya kan? Aku di sekolah ini memiliki begitu banyak tanggungan. Kau tak tahu itu kan? Aku tak meneruskan mimpi ku untuk masuk pesantren karena sekolah ini. Bukan aku menilai buruk pesantren, karena rasa tidak terima ku atas pelecehan seseorang atas ayahku yang katanya tidak mampu membawa ku ke SMA seperti ini. Dan sekarang kau lihat, ku di sini bersama mu”
Aku terdiam. “emm, Tapi setidaknya kau tak menjerat dirimu. Lihat dirimu, meski kau cantik kau tak pernah selaras dengan penampilan kami. Kau sungguh berbeda. Kau tahu, pernah suatu hari salah satu teman kita berbicara di belakang mu. Kau pemeluk agama radikal!”
“Mereka tidak mengerti apa-apa. Mereka hanya melihat dengan mata terbatas yang mereka miliki. Hijab ini adalah pilihan ku sebagai seorang pemeluk Islam. Dan hijab ini lah yang selalu menjagaku dari prinsip hidup ku”
“Kau begitu Out Of Date. Ini dunia yang real, Rahmah. Bukan seperti novel religi yang sering kau baca itu”
“Tidak ada hubungannya dengan hal itu, Fisya” Dia tak pernah lupa dengan senyumnya.
Aku putuskan untuk berhenti dan mengakhiri pembicaraan kita.
Tak terasa air mata ku perlahan menetes merasakan kerinduan kepada Rahmah. Ia sosok perempuan yang mencoba menggugah hati ku yang terlalu terjungkal ke dalam gemerlapnya dunia yang fana ini. Karena dirinya lah sekarang kau menggunakan hijab panjang dimana saja, di kampus dan di kamar kost. Kugapai sebuah hijab cantik berwarna biru langit yang selalu dikenakan oleh Rahmah. Ku peluk hijab ini dan ku ingat bagaimana Rahmah bercerita pada ku di kala ia memakai hijab ini di pantai.
“Aku ingin menjadi guru yang hebat. Aku ingin memiliki sekolahan dan mampu menampung anak-anak yang tidak mampu mengenyam bangku pendidikan. Kau lihat, berapa anak desa kita yang tidak mampu untuk bersekolah. Lalu mereka yang bersekolah itu pun apakah sudah mendapat pendidikan yang memadai? Alih-alih memadai, konsep keagamaan saja kabur di kurikulum sekolah saat ini. Jadi jangan salahkan siapa, moral anak bangsa sekarang cukup meprihatinkan” ucapnya yang membuatku terpana cukup lama.
Aku bisa memanggilnya kartini masa kini. Semangatnya dalam hidup melebihi siapapun. Rasa menolong atas bangsanya ini melebihi presiden yang berada di bangku tahta paling tinggi sekalipun. Bila Megawati mampu digantikan dahulu, aku akan mengajukan dia sebagai penggantinya.
Fikirku melayang sampai kemana-mana. Fikiran ku inilah menyadarkanku untuk segera bergegas pergi. Ku cek uang dalam dompet ku, karena tak lucu bila aku pergi tak membawa uang sepeserpun. Sengaja aku tidak menelpon rumah dan meminta supir keluarga untuk menjemputku. Ku lebih memilih untuk pergi menggunakan bus, karena aku ingin merasakan kehidupan lain dari diriku. Kehidupan orang-orang yang bernasib di bawahku.
Perjalanku pulang tidak pernah mengecewakan. Aku akan selalu disuguhi pemandangan yang menawan. Daun-daun yang terlihat menguning karena sinar matahari melambai dengan sayu. Pohon-pohon yang bergoyang seirama dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Ku buka jendela bus itu. Ku pejamkan mata dan merasakan angin yang membelai lembut wajahku. Hijabku pun ikut bergoyang-goyang perlahan. Aku pun menyungging senyum.
Namun terkadang batu terjal mengusik khayalanku. Tubuhku terguncang bersama ban bus yang tersengal-sengal untuk berjalan. Akan tetapi, aku tak pernah sedikit pun memaki, karena ku tahu tanpa mereka kami semua akan mati. Terjungkir dan terpolosok ke dalam jurang kanan kiri kami. Dan tentu aku akan sedih karena hal itu.
Satu lagi yang menganggumkan, air yang mengalir di sepanjang kali di bawah kita. Miris memang bila kita memandang kali itu dan membayangkan diri kita jatuh dan terkoyak oleh arus derasnya. Tidak hanya itu, mungkin kita akan mendapati memar di sekujur tubuh yang terkadang mengantarkan kita dengan maut. Aku takut khayalan itu, aku benar-benar takut atas semua itu. Memori lama ku yang terpendam tergali kembali.
Hari itu, cuaca cukup cerah. Matahari bersinar dengan sangat ramah. Tidak ada panas yang menyengat, tidak ada dingin yang menyayat. Semua biasa-biasa saja. Angin pun berhembus ramah, bagai hembusan nafas seorang sufi yang perlahan di kala sedang bermujat, teratur. Sehingga teman kelasku pun tanggap dan membuat acara camp fun: together with us. Aku sangat antusias dalam acara tersebut, dan syukurnya semua teman kelas pun diwajibkan untuk ikut, jadi tidak ada alasan Rahmah tidak turut bergabung. Satu hal lagi yang membuat hati ku bagai berwarna pelangi, Doni turut join bersama kami. Walau dia kakak kelas, tapi dia dipercaya sebagai pendamping kami. Dan sekaligus sebagai guardian pribadi ku.
Bukan sebuah paksaan memang. Semua anak kelas 10 ikut serta. Kami berangkat dengan tiga bus. Aku memilih tempat yang mempunyai dua kursi, untuk ku dan Rahmah tentunya. Mengapa bukan dengan Doni? Salah perkiraan ku. Ia benar-benar menjadi pemandu buat yang lain. Benar-benar sibuk dirinya. Tapi dia sudah janji untuk sejenak meluangkan waktunya.
“Benar-benar genit mereka” Gerutu ku melihat Doni melendeni segerombolan teman perempuanku.
“Apa mereka tak lihat aku di sini? Kak Doni juga begitu” tambahku kesal
“hahaha.... udahlah Fisy, Kak Doni sedang menjalankan tugasnya. Mereka itu berhak mendapat pelayanannya. Kamu jangan sensitif gitu lah” jawab Rahma dengan tenangnya.
“Gimana nggak sensi coba, lihat tuh wajah mereka... kayak nggak pernah lihat cowok aja”
“udah... udah... ku mau tidur dulu”
“Huh, dasar jomblo”
Dia melirik sebentar ke arah ku, dan tersenyum. Dia kembali tidur.
Santai sekali dirinya, pikir ku. Jika aku jadi dirinya, pasti aku sudah panik bila belum punya pasangan. Ku telusuri wajah sahabat ku itu. Ia benar-benar mirip dengan tante ku. Wajahnya oval, berhidung mancung, bibir tipis, dan matanya itu... sama seperti mata yang ku miliki. Teduh.
Namun, ada yang berbeda darinya hari ini. Ia begitu pucat sekali. Tiada cahaya dalam auranya. Apa dia sakit? Tapi aku tak pernah melihatnya memgalami sakit yang serius. Oh ya, pernah beberapa kali aku melihatnya pingsan di sekolah. Ketika ku tanya, jawabnya sederhana.
“Kelelahan saja. Aku baik-baik saja Fisy”
Bus yang kami tumpangi sudah sampai tujuan. Dan kami pun turun. Aku bangun dari tidur ku yang tiba-tiba, karena mimpi yang aneh. Kak Doni bersama cewek lain. Ku mengumpati mimpi itu. Aku pun bergegas dan membawa perlengkapanku. Tapi, rahma masih tertidur. Wajahnya semakin pucat. Ku coba membangunkannya. Dia tidak lekas bangun juga. Ku goncangkan badannya. Badannya dingin seperti es. Aku panik dengan keadaanya. Aku takut terjadi sesuatu dengan dia. Aku pun memanggil yang lain dan meminta pertolongan. Beruntung Kak Doni datang.
“Kenapa Fisy?” tanyanya panik.
“ Kak, rahmah kak... dia tidak bangun juga”
Kak Doni memeriksa badannya.
“Dia tidak sadarkan diri”
Lekas dia mengambil handphonenya dan memanggil petugas medis. Petugas medis pun bergegas datang dan membawanya ke dalam sebuah mobil untuk memeriksanya. Aku pun mengikuti mereka, tapi mereka tidak memperbolehkan ku masuk. Sehingga aku pun hanya bisa terisak di luar. Doni pun menenangkanku.
“Aku takut terjadi apa-apa dengan dia Kak. Badannya begitu dingin seperti tiada nyawa di dalamnya” ucapku yang begitu kalut saat itu.
“Semua pasti baik-baik saja Fisya. Tenang saja”
Petugas medis pun keluar dan mengabarkan sesuatu yang tidak menyenangkan.
“Dia membutuhkan perawatan yang lebih intensif. Kami akan membawanya ke rumah sakit”
“Iya. Selamatkan kawan kami” Ucap Deni memeluk ku.
Aku bersikeras untuk ikut, tapi Deni melarang.
“Nanti kita ke sana bareng saja. Sekarang biarkan Tim medis melakukan yang terbaik untuk Rahmah”
“Tapi aku... aku mengkhawatirkannya” jawab ku sesegukan.
Mobil petugas medis itu pun melaju dengan sangat cepatnya, seakan pasien di dalamnya hampir kehilangan nyawanya.
“Mengapa pada saat itu kau memaksa untuk ikut Rahmah bila kondisi tubuh mu seperti itu” aku menghela napas panjang.
Kenangan itu takkan pernah lari dalam setiap inci memoriku. Rasa takut yang membelenggu itu masih ku Rasakan sampai detik ini. Oh, Tuhan... maafkan aku.
Bus yang melaju kini seakan dapat bernafas lega. Lantaran tiada jurang lagi yang menemani perjalanannya. Bus telah sampai di jalanan kota. Jalanan tol. Aku pun bernapas lega dan mencoba untuk menikmati setiap pemandangan yang tersajikan. Tapi, badan ini tidak bisa berbohong sama sekali. Rasa lelah memang tidak pernah membiarkan tubuh ini. Ia selalu mengikuti saja tanpa mau berdiplomasi sesaat. Rasa lelah yang egois, umpat ku.
Tak membutuhkan waktu lama, aku telah berada di sisi jalanan tempat tinggal ku. Tinggal berjalan sepuluh menit, aku bisa melihat rumah yang berpagar besi hitam itu. Rumah ku. Namun, kaki ini tak ingin ke rumah itu dahulu. Kaki ku membawa ku ke suatu tempat untuk menebus kesalahan ku. Rumah keluarga Rahmah.
Aku tak begitu heran dengan kondisi rumahnya sekarang ini. Rumah itu, belum mengalami renovasi dalam tiga tahun ini. Sama seperti kala aku meninggalkannya untuk mencari ilmu di kota pelajar itu. Rumah itu lah yang membesarkan kartini masa kini ku. Rumah itu lah yang membuatnya teduh di kala hidup benar-benar meruntuhkan mimpi-mimpinya.
Seorang wanita tersenyum menyapa di saat melihat ku termangu di sudut luar rumahnya. Aku tergugah dengan senyumnya dan mencoba untuk membalasnya. Aku langkah kan kaki ku ke arahnya. Ke rumah itu. Aku sapa dirinya. ku cium tangannya. Tangan yang menjadi saksi betapa keras kehidupannya.
Ia tetaplah wanita yang sama. Wanita yang menangis pasrah 4 tahun silam. Tapi sekarang, ia lebih kuat dalam memandang hidup. Karena baginya semua adalah titipan.
“Bagaimana acaranya Tante?”
“Alhamdulilah, semua berjalan lancar. Semoga Allah menjawab setiap doa yang kami panjatkan”
Aku menghela nafas lega. Memang hari ini sudah tahun ketiga setelah meninggalnya Rahmah, karena penyakit ginjal yang telah lama ia derita dan baru saja aku ketahui setelah dirinya hampir menemui ajalnya.
“Aku masih membawa rasa bersalah itu kemana-mana Tante. Entah aku harus bagaimana” ku buka percakapan dengannya, tapi dengan sangat murung.
“Tidak Fisya. Tak usah kau menyalahkan diri. Semua telah menjadi kehendakNya yang tak mampu dari kita melawannya. Ikhlaskan saja semua. Tante yakin, semua akan menjadi baik-baik saja”
Aku terdiam. Sering ku berjumpa kata-kata “semua akan baik-baik saja” yang sampai sekarang membuat ku bingung. Benarkah?
“Andai waktu itu aku mampu merajuk kepada ayah untuk mendonorkan ginjal. Pasti Rahmah masih di sini bersama kita. Ia masih mampu untuk melanjutkan cita-citanya” ucapku bagai kembali seperti anak-anak yang mengakui kesalahannya. Entah mengapa waktu itu, orang tua Rahmah tidak memiliki ginjal yang cocok buat dirinya. Tapi harus aku yang memilikinya yang mana benar-benar ditentang ayah untuk mendonorkannya.
“Tak ada kata andai Fisya. Biarkan semua berjalan seperti apa yang telah digariskan. Biar dia bahagia di sana. Dan kita bahagia di sini sembari mendoakannya” Ia tersenyum. Seperti anaknya senyuman itu.
“Kau cantik menggunakan hijab biru itu”
Aku memakai hijab pemberian Rahmah sebelum dirinya menghadapi masa kritis itu.
Ya, Tuhan. Aku melihat dirinya di tubuh wanita itu. Aku memandangnya tanpa berkedip sekalipun. Wajah itu ayu, mata itu mata redup. Mata kami berdua. Dan Ia memilikinya juga. Ia menyentuh pipiku yang entah bagaimana telah bersimbah airmata. Menangis kah aku?
Terkadang matahari memang redup
Dan ia tertelan dalam kemelut malam yang hitam
Hingga bulan menggantikan perannya
Tapi kau tidak demikian
 Kau tetaplah matahari meski di tengah malam
Bercahaya terang
Hingga bulan pun tak perlu menggantikan
Karena sinar dan senyum mu menenangkan bulan
Itu lah kau, Rahmah

Matahari di tengah malam

Komentar

  1. Siippp....mampir juga ya kak di
    amiabeb.blogspo.com

    Masi sedikit sih tulisannya..cuma mohon kritik saran :D

    BalasHapus
  2. keren kak cerita nya dan sayang banget kak rahma nya udah gak ada, tapi kalau ini beneran [based on true story] semoga kaka keep istiqamah menggunakan hijab nya

    BalasHapus
  3. dan sedikit ikut sharing..mohon kritik dan saran nya juga untuk tulisan ku kak
    https://www.wattpad.com/myworks/50151198-i-dont-know-why-based-on-true-story

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer