CERPEN
Malam Itu Telah Menjadi Saksi
“
Ku tersesat dalam mencari cahaya Mu, dalam mencari arah suara Mu. Aku masih
terlena dengan kemegahan dunia Mu, yang telah aku mengerti akan hancur tak lama
lagi. Mencari jalan Mu adalah sebuah mimpi yang telah lama tertanam dalam di
setiap pejaman mataku, di kala malam membius dengan semribitnya angin yang
berhembus. Walau begitu, tetap saja semua itu hanya sebatas teori impian
belaka. Hanya itu. Sampai aku bertemu dengan wanita itu. Sebuah pertemuan yang
mengubah kehidupanku”
Malam begitu lama kurasakan
sehingga sampai detik ini pun aku belum mampu memejakan mataku. Aku mencoba untuk
meraih cermin yang tergantung di dinding gedhek
rumahku. Ingin rasanya melihat mataku yang mulai membengkak karena cairan air
mata yang meleleh pelahan di sepenghujung malam. Bagaimana mau qiyamun lail bila sampai semalam ini aku
belum mampu tertidur. Jam dinding itu telah memutarkan dua jarumnya ke arah 12
tepat. Ya Allah, aku belum bermunajat kepadaMu.
Aku putuskan untuk mengambil air
wudhu sebelum benar-benar tertidur. Air itu pun perlahan mengalir di wajahku,
lalu menuju kedua tanganku sampai kedua siku, tak lama mengusap sebagian rambut
dan berakhir di kedua kakiku tepatnya mata kakiku. Suara malam yang bertemankan
angin itu menjadi ciri khas di daerahku, pesisir tepatnya. Sungguh terasa
sangat dingin dan sunyi karena memang waktu seperti ini kehidupan belum dimulai
atau bahkan baru ditutup. Seluruh penduduk merasa lelah karena aktivitas
hariannya yang cukup menguras tenaga. Para nelayan yang berkerja keras untuk
mengais rezeki dalam ribuan mill luasnya laut mencari kehidupan di dalamnya
untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Para ibu yang tak pernah merasa jengah dalam membantu perekonomian
keluarga membanting tulang dengan membantu menjualkan hasil tangkapan para
suami mereka. Dan juga anak-anak mereka yang tak pernah bilang ‘emoh’ bila diminta untuk membantu orang
tua mereka. Mereka menikmati kesederhanaan itu. Semua itu jauh dari kehidupan modern
saat ini yang mana kehidupan, kesuksesan identik dengan materi. Pendidikan
tinggi yang berorientasi setelahnya adalah mendapat pekerjaan dan gaji perbulan
untuk menunjang kesejahteraan. Sempat aku berpikir apa arti kesuksesan itu
sendiri.
Semakin jauh aku merenung semakin
tak karauan perasaanku. Semua hal-hal asing pun masuk menyesakki hatiku yang
kecil ini. Napas ku semakin sesak dibuatnya, hingga harus berulang-kali ku
ambil napas panjang di atas batas normal. Namun tak ada maksud pikiran ini
untuk berhenti mengusik ketenangan jiwaku.
Siang tadi, terik memang begitu
menusuk ubun-ubun di sudut kepala. Walau aku memakai kerudung yang tebal pula,
itu tak dapat memberi efek apa-apa. Lalu, bagaimana dengan mereka yang
membiarkan sebagian tubuh mereka tidak melekat barang sesobek kain pun?. Para lelaki membiarkan tubuh mereka menghitam
mengkilat keringat di bawah panasnya sang mentari, tapi tak ada rasa sakit di
raut wajah mereka. Sungguh mereka menikmati keadaan seperti itu. Menikmati
ribuan uang yang akan mereka raup untuk siang ini. Begitu pun para wanita yang
hanya mengenakan baju seaadanya, lengan pendek dan rok yang hanya menutupi
sebatas lutut ke bawah tak sampai menyetuh mata kaki. Tak sampai sekalipun.
Mereka membiarkan rambut mereka tergurai lepas dan sesekali mengumpulkannya di
tengan kepala. Aku hanya mampu melihat semua itu dari jauh yaitu dari sebuah
tempat duduk yang terbuat dari semen yang berpadu dengan beberapa batubata yang
baru dibangun bapak sebulan lalu. Dulu aku masih bergabung dengan mereka yaitu
membantu orang tuaku yang memiliki aktifitas yang tak jauh berbeda dari
aktifitas mereka. Bapakku mencari ikan dan ibu menjemur ikan-ikan itu. Aku dan
adik-adikku membantu menjemur ikan yang subhanallah
banyaknya. Namun sekarang ini aku tak dibolehkan mengikuti mereka, apalagi
dengan posisinya aku memakai jilbab atau jubah seperti itu mereka menyebut
pakaianku. Berkerudung panjang mungkin membuat mereka takut. Akan tetapi bukan
seperti itu alasannya, pernah suatu hari aku ikut membantu mereka dengan
pakaian seperti itu dan dengan tidak sengaja mungkin salah seorang meletakkan
sebakul ikan diatas jilbabku yang terumbai ke tanah pada saat aku berjongkok
dan akhirnya semuanya tumpah saat aku berdiri untuk berjalan dan menarik
jilbabku. Mereka memarahiku, menyumpah serapahiku. Berbagai ucapan yang
menyakitkan itu terlontar begitu mudahnya.
“Kalau mau pakai baju seperti
itu, noh di sana dalam masjid. Jangan
di sini”
“Lagian panas-panas gini pakai jubah segala apalagi tu kerudungnya panjangnya nggak wajar”
“Dapat ilmu darimana sih kamu, hah? Istri Pak ustad aja nggak sampai kayak kamu gitu”
Aku tak bisa berkata apapun. Rasa
salah itu seakan melumpuhkan aku dengan sigapnya. Membungkamku untuk membela
dari semua perubahanku.
Tak cukup sampai di situ, di
rumah pun orang tuaku menentang semua itu. Ibu yang bersemangat sekali
memarahiku. Beliau malu atas tindakkanku itu. Aku hanya tertunduk lesu. Tak
seharusnya aku berkata apapun dalam keadaan seperti itu. Malahan akan
memperkeruh kerunyaman ini.
Aku menghela napas panjang.
Sesaknya dadaku tak kunjung terurai. Bahkan malam yang makin larut ini,
menambah berat napasku. Aku hanya mampu beristighfar di sela-sela hembusan
napasku yang tersengal-sengal ini. Tak terasa air mataku menetes kembali.
Sungguh berat beban yang kurasa ini, tapi aku yakin tak seberat rasulullah saat
mengemban dakwah. Beliau dicaci maki, dihina, diejek, diboikot, dan bahkan
sampai akan dibunuh, beliau tetap berdiri dengan tegap menyerukan namaNYA,
tanpa ada rasa ragu sedikit pun. Hingga perjuangan beliau itu pun berbuah
sangat mengagumkan. Islam agama yang dibawa beliau tersebar di sampai pelosok
dunia. Islam menyeru sampai Indonesia.
Kuusap tetesan air mata ini di
kala aku mengingat sirah beliau. Konstribusiku terhadap agamaku belum sehebat
para penganut Rasullulah apalagi seperti beliau. Itu dirasa cukup jauh. Jauh
sekali!. Aku masih berkutat pada diriku sendiri. akidahku yang suatu saat masih
bisa oleng dan jatuh ke dalam hingga hancur berkeping-keping. Hanya baru
sedangkal itu. Lalu, pantaskah aku menangis seperti itu dan mengadu dengan mengharu
biru kepada Sang Khaliq?. Bila mungkin ada seseorang yang telah mencapai tsaqofah yang tinggi, ia akan
menertawakanku dan menganggapku selemah yang mereka akan lihat atas diriku.
Kuambil cermin lagi dan melihat
raut wajahku yang sudah tak karauan bentuknya. Celak mataku menebarkan setiap
butirannya di sekitar mataku dan bahkan sampai pipi dan daguku. Masih pantaskah
aku menangis seperti ini? Seharusnya tidak.
Waktu menunjukkan tepat jam 2.
Saatnya aku menutup setiap pikiranku yang masih saja berusaha menyeruak dan
mengambil kembali sedikit ketenangan yang dengan susah payahnya aku dapatkan.
Kusiapkan bantal yang akan menopang kepalaku selagi aku tidur. Kurapikan seprai
itu agar kenyamanan dapat aku rasakan. Kupersiapkan selimut yang akan
melindungi tubuhku dari sengatan dingin malam hari ini. Kuletakkan qur’an kecil
itu pada tempatnya, sudah terlalu lama qur’an itu berada di genggamanku
sehingga tubuhnya basah kuyup oleh air mataku. Aku yakin ia akan mengginggil
malam ini. Aku sedikit menyungging senyum membayangkan hal itu. Akhirya aku
rebahkan juga tubuhku dan mencoba untuk meminta izin malam agar mengizinkanku
untuk menikmatinya. Kuluruskan kakiku dan kurapikan rok panjang yang membantu
sang selimut untuk menyelimutiku. Kuucap sebait doa untuk penjagaanku malam
ini. Semoga malam ini bukanlah malam terakhir untukku. Semoga esok aku mampu
menyambut mentari pagi kembali dan mengantarkannya berpulang kembali ke tempat
peraduannya.
END


Curhat?
BalasHapusnggak tho... monggo kritik dan sarannya...
Hapus