CERPEN

Bukan Aku tapi Surga Itu

Gemuruh langit itu tak kunjung usai. Kemelut awan yang seakan berkejar-kejaran masih tetap menikmati sebuah kebebasan, dan semua itu telah berlangsung dua jam yang lalu. Aku masih tetap tak bergeming dari tempatku menatap langit yang kini sedang menangis. Hembusan nafasku pun membentur kaca yang terletak depan mukaku dan membentuk embun sehingga mengaburkan pandanganku ke depan. Tak niat aku mengusap embun di kaca itu. Malah, kutulis suatu ungkapan dalam goresan dari kolaborasi kaca dan nafas pendekku. Tak lama  pandanganku kabur kembali. Namun bukan karena embun kaca itu melainkan airmataku yang menetes kembali.
Gemuruh langit itu bagai ombak dalam hatiku yang beberapa hari kembali menyiksa. Ya, perpisahan. Aku sebenarnya membenci hal itu. Walau banyak para motivator yang berkata “perpisahan adalah awal pertemuan baru”, tapi tidak untukku. Hal itu sangat menyakitkan. Dalam hidupku, perpisahan bak petir yang menyambar di siang hari. Semua muncul secara tiba-tiba. Intinya aku mengingkari pernyataan para motivator itu. Titik.
Ku hela nafas panjang dan menghebuskannya bak aku menghepas semua kegelisahan. Sedikit mengobati memang. Ku usap wajahku yang usang ini, yang mana sudah beberapa hari tak tersentuh apapun. Memang, akhir-akhir ini Kota yang panas ini terselimuti oleh tebalnya kemelut awan yang hitam. Dan ricikan air pun dari yang perlahan sampai yang deras menghiasi wajah Kota. Jadi Kota yang panas ini berubah menjadi Kota yang dingin. Ya, kota dingin, sunyi dan mati.
Lelah aku mempertahankan posisi seperti ini. Duduk bersandar kursi belajar di dalam sebuah ruangan yang lebarnya tak ubahnya seperti penjara elit para koruptor. Ku coba melangkahkan kaki untuk mengambil secangkir teh hangat, berharap untuk bisa tenang kembali. Dua sendok gula ku tuang dalam gelas dan  air panas dari tremos lalu ku celup teh aroma melati dalam cangkirku. Aromanya sungguh menenangkan sekali. Kehangatannya sungguh membawa jiwaku dan menarik ke alamnya. Hanya ini penenang yang halal bagiku.
 Waktu menunjukkan waktu 17.00 WIB tapi suasana seakan seperti menjelang maghrib. Gelap. Biasanya banyak manusia yang berlalu lalang di jalan depan kamarku. Namun tidak untuk sekarang ini. Aku bisa merasakan angin datang menyerbu ruangan ini lewat celah di atas jendela itu. Ia seperti mengerti bahwa jiwa yang di dalamnya seakan hampir mati karena menyerap udara yang itu-itu saja. Aku pun sedikit tertawa. Dan tak lama aku mulai muram kembali.
Aku teringat kejadian setahun lalu. Di saat aku benar-benar berada di antara mereka. Mereka yang mencintaiku. Keluarga, sanak saudara, sahabat, kerabat, dan teman dekat. Ketika kita sering membuat sebuah moment terindah untuk berkumpul walau sekedar mencicipi rasa kopi di kedai yang baru, hang out bersama di saat tekanan hidup memaksa mereka untuk menyelesaikannya, dan bercengkrama bersama di kala salah satu keluarga pulang merantau dari luar negeri. Itulah kebersamaan kami. Kita menyebutnya “cinta”.
Aku terlahir dari keluarga yang dipandang mampu. Semua segan terhadap keluargaku dan semua anggota keluarga mungkin orang-orang pilihan tuhan untuk memimpin kericuhan dunia ini. Ayah ibu ku adalah sosok pemimpin. Gubernur daerah dan sekretaris desa. Kedudukan yang tak seorang pun akan memincingkan mata pada mereka. Kedua kakak ku adalah mahasiswa dan mahasiswi lulusan instansi ternama. Arsitek dan designer adalah ambisi mereka yang menjadi profesi mereka. Aku pun sekolah di instansi ternama pula.
Mereka memperlakukanku dengan sangat baik. Menuruti segala apa yang aku inginkan. Ya, semua itu karena cinta mereka terhadapku. Aku sangat mencintai keluargaku. Hingga datang sesuatu yang tak pernah aku temui sebelumnya. Sebuah surat. Bukan, pesan lebih tepatnya. “Mereka sangat mencintaimu, dan kau pun pasti mencintainya. Namun tahukah kau anak manis, Dunia adalah bukan suatu tempat yang indah. Kau pasti sepakat denganku. Mereka menderita hidup di dunia ini. Kau tak ingin kan mereka hidup menderita? Akan tetapi tak usah sedih sayangku. Ada satu tempat paling indah yaitu surga” Seperti itu isi pesan yang aku terima di dalam laci sekolahku. Aku renungi pesan itu dan mengabaikan guruku yang sesekali memanggil namaku. Reputasiku sebagai anak manis yang nurut tergadaikan.
Di rumah aku memiliki guru pribadi yang mengajariku tentang segalanya. Belajar berbicara dengan orang lain yang sopan, mengendalikan semua yang aku inginkan dan lain sebagainya. Tak usah diajar seperti itu juga aku sudah punya teman banyak yang mana selalu hadir di hari ulang tahunku tepat waktu. Namun, ya biarlah. Hanya karena pesan di atas, tak ku hiraukan pelajaranku itu. Biarpun tubuhku diguncang agar memberi perhatian, tetap saja pesan itu yang menyita segalanya, termasuk duniaku.
Surga, aku penasaran apa itu surga. Apakah tempat itu yang akan membahagiakan semua orang yang aku cintai? Apakah surat itu benar apa adanya? Sering aku menemui kata surga dari ceramah guru-guruku. Kata mereka surga memang tempat yang indah. Penuh dengan taman dan air yang segar. Tapi ketika salah seorang teman sekelasku berkata “ Aku ingin ke surga”, guruku berkata “ untuk ke surga ada waktu sendiri, Nak” meski begitu tak satu pun dari kami paham akan apa yang guru itu katakan. Mereka tetap saja sibuk dengan hal yang menyita segala kefokusan mereka sebagai anak-anak yang berketebelakangan mental.
Seperti biasa setiap jam 6 aku harus sudah siap untuk pergi sekolah. Sarapan pagi dengan roti selai coklat berlapis dan segelas susu murni. Itu menu kesukaanku. Menu yang mereka anggap terlalu kekanak-kanakan untuk usia manusia berumur 20 tahun. Akan tetapi tak jadi masalah bagiku. Akulah aku, bukan mereka. Sekitar 30 menit, mobilku telah berada di depan sekolahku. Aku sedikit malas melangkah ke sana. Mungkin karena aku telah bosan menjadi penghuni tetap dari aku kecil.
Ku buka laciku. Lalu apa yang terjadi, aku menemukan sebuah lukisan yang sangat  menakjubkan. Pemandangan yang terlukis di kertas yang berukuran bingkai 10 R itu sangat indah. Tak pernah aku sekalipun melihat tempat seindah lukisan itu. Lalu di sampingnya ada sebait puisi.
“Meraihku ialah sesuatu yang tak akan pernah kau gadaikan dengan apapun. Dan coba lihatlah, anggunnya aliran air yang mengalir perlahan. Ia bagaikan pinggang perawan yang melenggang untuk menyapa sang pujaan hatinya. Coba rasakan aroma tubuhku, yang seakan membakar api membara di setiap rusaknya jiwa. Maka antarkan mereka kepadaku”
Akupun terpaku. Terlalu bingung dan tersesat untuk berbuat apapun. Kepalaku semakin berat terasa karena sedikit hantaman halus dalam otakku. Entah apa yang kurasakan. Hingga akhirnya aku hanya mampu melihat kunang-kunang dan perlahan gelap. Aku tak sadarkan diri.
Cahaya itu pun makin terang hingga aku tak bisa melihat apapun disekitarku. Perlahan ku ketahui sinar itu adalah cahaya siang hari yang menerobos masuk melalui jendela kamar perawatan siswa.
“Gambarmu indah, sangat indah malahan” kata seorang perawat di kamar perawatan itu.
Aku hanya mengalihkan pandanganku dari senyumannya itu. Aku masih terlalu shock untuk mengingat gambar yang tiba-tiba di laciku.
“Apa itu yang dinamakan surga?” akhirnya aku bertanya pada perawat itu.
“lya. Bahkan lebih indah” jawab perawat itu dengan tersenyum.
Seindah itukah surga itu. Benarkah pesan-pesan itu? Aku masih terlalu pusing untuk memikirkannya. Aku putuskan untuk tidur kembali saja.
Sekitar jam 1 siang aku pulang. Ya. aku ingin pulang lebih awal dan tak ada satupun yang berani melarang apa yang aku inginkan, atau aku akan marah. Mobil yang digunakan untuk menjemputku itu pun datang dan tak membutuhkan waktu banyak aku telah berdiri di depan gerbang rumahku.
Aku melangkah ke dalam dan seketika aku mendengar dua orang dewasa sedang adu mulut. Sudah menjadi rutinitas seperti itu. Ayah ku dengan partnernya. Kalau mereka sedang adu mulut seperti itu aku hanya menutup telinga dan duduk di sudut kamarku karena aku tak suka hal itu. Aku terlalu bingung untuk mengetahui semuanya. Para pengajar yang pernah mampir dalam hidupku sering berkata bahwa kita harus saling mengasihi dan menyayangi dengan sesama. Namun semua itu bertolak belakang dengan semua realita yang aku temui. Jauh sekali.
Teman ayah yang tak lain bernama Hendro itu memang sering kesini. Ia seakan sudah seperti keluarga malahan. Ketika ada acara di rumah ini, Om Hendro tidak pernah tertinggal. Semua keluarganya ia bawa ke sini. Namun ada satu hal yang aku benci dari keluarga itu. Anak mereka yang selalu menatapku sinis dan remeh. Ya. Satu manusia itulah yang kuanggap tidak normal.
 Dengan lesu aku melangkah ke dalam kamar dan membuka kembali lukisan yang ada di dalam tas hitam itu. Hatiku pun bertanya, apakah memang surga itu yang akan menjadi tempat terindah untuk semua orang yang aku cintai? Jikalau iya, bagaimana cara mengirim mereka kesana? Aku kasihan dengan beban berat mereka atas ulah dunia ini. Apa yang harus aku lakukan? Rasa lelahku tak sirna walau aku tertidur lama di ruang rawat sekolah. Aku pun tidur kembali.
“Waktu terasa semakin berlalu, tinggalkan cerita tentang kita. Akan tiada lagi kini tawamu ‘ntuk hapuskan semua sepi di hati. Ada cerita tentang aku dan dia dan kita bersama saat dulu kala. Ada  cerita tentang masa yang indah saat kita berduka saat kita ketawa”*
Terdengar alunan musik menyeruak dan mengusik ketenangan dalam tidurku. Kesal. Aku ayuhkan kakiku untuk menggapai segelas air putih di dapur. Rasanya kerongkongan ini kering kerontang karena seharian tak tersiram air segar setetespun.
Tak terasa waktu sudah begitu meredup. Berapa jam aku tertidur?. Rumahku memang cukup besar jadi hanya untuk meraih dapur itupun tidak bisa sesimple rumah lainnya, apalagi dari kamarku. Namun beda lagi jika kamarku pindah di kamar pembantu.
Ada sedikit ke ganjalan di sini. Dimana orang rumah? Bukannya sebelum tidur tadi ayahku sedang bersama Om Hendra. Aku pun berniat untuk menengok ruang kerja ayahku. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah dan langkah-langkah lainnya. Aku tiba di depan pintu ruangannya. Ku buka, ku putar dan ku lihat semuanya gelap. Ku nyalakan lampu, terlihatlah sesuatu yang tak terpikirkan. Om Hendra duduk dengan santainya dengan di bawahnya sesosok tubuh yang terkulai lemas penuh tinta merah. Darah.
Ia tersenyum lebar tanda kemenangan. Dia mendekat ke arahku lalu berkata pergilah ke surga. Aku bergetar hebat karena saking takutnya. Dan menjerit itulah satu-satunya andalanku.
Peluh itu memenuhi tubuhku dan membasahi kasur, sprei dan bantalku. Ternyata hanya mimpi. Aku masih saja terobsesi dengan surga. Surga yang entah itu ada atau tiada.
Malam pun kini telah menyapa. Sudah berapa detik waktu yang aku lewatkan untuk tidur, untuk melupakan sejenak ingatan yang sampai sekarang masih melekat erat di setiap lipatan otakku. Aku tak tahu harus berbuat apalagi dan bagaimana lagi untuk menghilangkan setiap teror ini. Aku hanya dapat menerka bahwa telah ada seseorang yang memanfaatkan rasa cintaku kepada keluargaku. Aku memang sangat ketakutan akan hal itu. Karena memang, aku mencintai mereka.
Tepat pukul 00.45 aku melirik jam kamar di dinding ku yang berwarna biru. Sampai selarut ini aku belum mengantupkan dua kelopak mataku. Aku memutuskan untuk keluar kamar barang sejenak. Mencoba untuk membuat secangkir teh panas yang aku percaya mampu menjadi penenang yang cukup mujarab. Aku melangkah gontai. Cukup lama aku lelah untuk menarik napas dan kini kembali menarik napas lagi, aku merasakan bahwa aku masih benar-benar hidup.
Tak butuh waktu lama, secangkir teh pun telah berada dalam genggamanku. Terpampang di depan mataku sebuah lorong yang cukup gelap. Sebuah lorong yang menjadi pemenyatu dapur dan kamar-kamar dalam rumahku. Kutelusuri lorong itu dengan perasaan cukup was-was, tapi dengan seketika aku tepis perasaan itu. Aku menoleh ke arah ruangan yang masih menyala lampunya. Ruangan ayah. Aku menghentikan langkah sejenak dan berpikir, selarut ini ruangan itu masih tetap saja menyala. Masihkah ada penghuninya? Terlintas sejenak pikiran untuk memutar ganggang daun pintu itu dan menegok ke dalamnya ada apa gerangan. Namun sekali lagi aku urungkan niatku. Sesegera mungkin aku meleggang pergi dan menjauh dari ruangan itu. Namun, suara itu tiba-tiba menggema dan arahnya tepat di dalam ruangan itu. Aku kembali lagi langsung mendobrak pintu kamar itu dan akhirnya. . .
Aku menemukan sesuatu. Darah amis itu menyeruak dan menusuk hidung. Aku membelalak tak percaya. Dua orang yang aku cintai tergeletak begitu saja tanpa ada seorang pun yang harus bertanggung jawab atas hal itu. Aku melihat sebuah pisau yang cukup menyilaukan karena terkena pantulan cahaya lampu kota. Ku pegang pisau erdarah itu dengan keringat yang berkucuran deras. Apa ini? Ada apa semua ini? Aku melihat sebuah kertas dan memungutnya. Kertas itu bertuliskan “Kan ku hantarkan kau ke surga”. Surga itu lagi yang muncul. Aku menuju dua jasad orang yang aku cintai dan mencium mereka. Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang menaiki tanggang dan aku melihat tiga polisi yang telah siap dengan pistolnya. Aku melihat wajah mereka terkejut. Mereka menyergapku dan memborgol tanganku. Secara paksa mereka mengambil pisau bersimbah darah itu dari tanganku. Akupun dituntun oleh mereka ketika menuruni tangga dan tanpa perlawanan akupun masuk dalam mobil mereka.
Napasku tersengal-sengal mengingat kejadian itu. Kejadian yang sampai sekarang tak aku mengerti hal-ikhwalnya. Namun aku tahu tempat yang telah lama aku tinggali ini setelah kejadian ‘perpisahan’ itu. Panti rehabilitas.
Aku mendengar ada beberapa orang berbincang-bincang di luar sana.
“Bagaimana kasus gadis itu?”
“Belum ada kejelasan. Dia adalah seseorang yang memiliki keterbelakangan mental”
“Bagaimana dengan saudaranya? Bukankah mereka masih hidup?”
“Ya, mereka selamat dari maut itu. Karena malam itu mereka tak berada di rumah. Tapi mereka sangat menyayangi adik mereka. Sepertinya gadis itu akan tetap di ruangan ini. Semua itu untuk menghindari hal-hal yang akan lebih mengkhawatirkan lagi”
“Sungguh malang nasib kelurga yang bahagia itu”
Entah, masih berapa lagi kalimat yang terlontar dari pembicaraan itu. Aku sudah tidak bernafsu untuk memguping lagi. Aku menuju kaca dan melihat hujan di baliknya. Aku memejamkan mata dan meleleh kembali air mata yang hangat ini. Aku menangis lagi.
END




* Semua tentang kita, dipopulerkan oleh Peterpen.

Komentar

Postingan Populer