ESAI
Guratan Hati
ia tersenyum, tersembunyi, menangis, tertawa, dendam, sedih,mencinta dan kecewa. Merasakan apa yang kehidupan ajarkan dan berikan. Mampu menyerap semua itu dengan sempurna. Terkadang ia berkata bahwa hidup itu sempurna untuk dirinya dan terkadang pula ia bernyanyi sendu bahwa hidup begitu kejam terhadapnya. Namun apapun yang hidup katakan, ia tetap lah lunak. Menunjukkan yang benar-benar terjadi kepadanya. Tak pernah ada kata bohong di benaknya. Bila ia menangis ia akan benar-benar menangis sejadi-jadinya. Bila tertawa ia akan menunjukkan kebahagiaan itu sejelas mungkin. Bila ia dendam, seakan-akan tangan yang ia punya untuk membunuh dan mencabik. Bila ia mencinta, ia akan mengerjar cinta itu dengan kekuatan di luar kemampuannya, mempertaruhkan harga diri demi cintanya.
ia tersenyum, tersembunyi, menangis, tertawa, dendam, sedih,mencinta dan kecewa. Merasakan apa yang kehidupan ajarkan dan berikan. Mampu menyerap semua itu dengan sempurna. Terkadang ia berkata bahwa hidup itu sempurna untuk dirinya dan terkadang pula ia bernyanyi sendu bahwa hidup begitu kejam terhadapnya. Namun apapun yang hidup katakan, ia tetap lah lunak. Menunjukkan yang benar-benar terjadi kepadanya. Tak pernah ada kata bohong di benaknya. Bila ia menangis ia akan benar-benar menangis sejadi-jadinya. Bila tertawa ia akan menunjukkan kebahagiaan itu sejelas mungkin. Bila ia dendam, seakan-akan tangan yang ia punya untuk membunuh dan mencabik. Bila ia mencinta, ia akan mengerjar cinta itu dengan kekuatan di luar kemampuannya, mempertaruhkan harga diri demi cintanya.
Hati
adalah bagian tubuh manusia yang paling sibuk. Menilai tingkah laku kehidupan
yang di tunjukkan kepadanya. Ia bukan lah pembohong ataupun pembual besar. Ia begitu
culun untuk menunjukkan perasaannya. Ialah
dewa kejujuran. Tak seperti bibir, yang begitu gagah menegakkan kebohongan. Tak
seperti mata, yang terkadang pertahananya mudah di hancurkan dan keluarlah air
yang berlinang. Tak seperti otak yang hanya berkata benar dan salah yang terkadang
mengandalkan keegoisannya. Mereka berbeda dengan hati. Sang makhluk suci.
Tubuhnya itu lemah, senang berlindung di balik lapisan lemak, otot, dan kulit,
dan ia lah makhluk paling rapuh.
Meski
ia rapuh dan lemah. Ialah kekuatan yang paling besar. Ia pendorong terhebat.
Menampung semua beban kehidupan. Ia hanya bekerja sendiri. Menahan semua yang
ia harus tahan. Mengucilkan kejujuran yang ia miliki. Hanya untuk menjaga
keseimbangan kehidupan. Meski ia menangis, tapi ia akan mengirimkan sinyal
senyuman kepada bibir. Ia tersenyum maka ia akan mengirim keseluruh anggota
tubuh untuk bergerak semangat. Ketika ia dendam, ia akan mengirim kesabaran
pada otak untuk tidak menyakiti siapapun dan apapun. Dan ketika ia mencinta, ia
akan tersenyum malu dan menyembunyikan wajah merahnya sehingga jantung pun ikut
tertawa melihat senyum malunya itu. sehingga jantung pun memiliki tugas untuk
berdetup kencang. Begitu sibuk tugas hati ini.
Aku
tertegun merasakan hati ini. kekompleksannya yang menuntunya menjadi makhluk
luar biasa. Tak hanya menjadi simbol kejujuran. Namun ia pula berperan sebagai
penunjuk yang handal. Ketika otak kita tidak bekerja maka yang akan berperan
penuh adalah hati. ia tetap akan mengingatkan seperti apa diri kita. Pernah
terjadi dalam sebuah novel yang berjudul slated
. Novel itu menceritakan bahwa seorang anak harus menjalani penghapusan memori
otak. Namun apa yang terjadi? si anak itu tetap merasakan kehidupan-kehidupannya dulu.
Merasakan
bagaimana yang ia rasakan di kehidupannya yang awal. Dalam hal itu otak tak
memiliki peran. Di sini lah kita ketahui bahwa hati menjadi guide terpercaya.
Siang
yang redup, mengantarkan tanganku untuk berbicara tentang hati. si kecil yang
tubuhnya bagai bentuk buah
mangga itu. Namun ialah simbol cinta. Akan tetapi, seperti yang sering ku
jumpai bahwa cinta di lambangkan dengan bentuk
lingkaran yang tidak sempurna, lebih tepatnya berbentuk daun waru. Lalu, apa hubungannya dengan hati?
Cinta
adalah sebuah takdir yang diberikan oleh sang pencipta untuk makhluk
ciptaanNYA. Tak ada dari makhluk ciptaanNYA yang tidak merasakan cinta,
sekalipun seseorang yang telah merasakan sakitnya cinta. Sesungguhnya cinta itu
sebuah keindahan, karena ia dari sang maha indah. Dan ketika ada seseorang yang
mengatakan bahwa cinta itu menyakitkan, itu sebuah pernyataan yang salah.
Tahukah, bahwa cinta itu murni. Menyayangi tanpa tahu alasan untuk menyayangi.
Mencintai tanpa harus tahu apa yang kita cintai. Itulah cinta. Sebuah hasil
pengolahan dari hati. Namun ketika seseorang merasakan sakit karena cinta, itu
bukanlah cinta, tapi itu adalah rival dari cinta yaitu kedustaan dan
penghianatan yang diproses dalam otak. Sedangkan cinta berasal dari hati.
Cinta
tak hanya di rasakan satu pihak saja. Cinta akan terjalin diantara dua pihak
atau lebih. Bila cinta hanya terjalin oleh satu pihak misalnya kita mencintai
diri kita, itu berarti keegoisan. Kita membutakan mata terhadap makhluk-makhluk
yang berada di sekitar kita. Hal seperti itulah yang akan membuat hidup kita
begitu kosong dan hampa. Biasanya cinta di identikkan dengan jodoh dan pasangan
hidup atau soulmate. Perasaan seperti
itu yang menimbulkan lambang cinta seperti daun waru. Tapi bukan kah cinta itu
dari hati? lalu ada apa dengan daun waru itu dengan cinta? bentuk hati ialah
seperti buah mangga. Namun apa yang akan terjadi ketika dua hati yang seperti
buah mangga itu di satukan. Mereka akan membentuk suatu bentuk yang mengejutkan
kita. Seperti daun waru. Itulah mengapa cinta tak dilambangkan seperti buah
mangga tapi daun waru, karena itu lah penyatuan hati. maka dari itu, sebuah
cinta tak hanya bertaut dengan satu pihak saja, namun pasti ada pihak lain yang
memiliki peran andil dalam sebuah cinta. Dan cinta tak hanya diantara dua
sejoli saja. Akan tetapi keluarga, orang tua, sanak saudara, anak, dan tuhan
kita adalah pihak-pihak yang mendapatkan cinta dari kita. Dan semua itu tak
dapat di prosentasikan dengan bilangan. Pernah suatu saat salah seorang teman
ku mencoba untuk memberikan prosentasi bagian cintanya terhadap orang-orang
yang berada di sekelilingnya. Ia merasa kebingungan pada saat itu, sehingga
otak matematiknya pun tak berjalan. Dari situ lah aku ketahui bahwa hati dan
cinta itu memang begitu dahsyat. Dan patut kita syukuri pemberianNYA.
Pikiran
dan perasaan lah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Kalimat inilah
yang sering ku jumpai. Bahwa memang keberadaan hati yang senang merasakan dan
otak yang suka berfikir itu berada. Namun pernakah kita berfikir bahwa makhluk
lain juga berfikir dan
berperasaan
seperti kita. Coba lihat lah binatang yang berada di sekitar kita, misal ayam yang ketika anak-anak mereka kita ganggu
dia pasti akan melindungi anak-anaknya, dan coba lihatlah kucing, ia akan
berusaha mencari cara agar dia dapat menikmati makanan yang kita simpan,
bukankah ia menggunakan pikiran? Jadi mereka juga berfikir dan berperasaan.
Akan tetapi kita yng sebagai manusia terkadang lupa akn hakikat kita sebagai
manusia yang berpikir dan berperasaan. Banyak dari kita melakukan sesuatu yang
benar-benar tidak berkemanusiaan. Sering kita jumpai kasus-kasus pembunuhan dan
pembantaian yang sebagian dari kasus tersebut adalah kasus pembunuhan ibu atau
bapak terhadap anaknya atau bapak yang bertindak asusila terhadap buah hatinya
sendiri. Dan ujung-ujungnya mereka berkata “gangguan kejiawan”. Sunguh alasan
yang cukup menyakitkan bagi pihak yang di bunuh khususnya. Seperti itulah
pikiran dan perasaan manusia. Secara tidak sadar kita telah membunuh kekuatan
hati kita yang kekuatannya sungguh luar biasa seperti itu. Tuhan mengerahkan
kekuatannya untuk menyempurnakan ciptaanya berupa hati kita. Namun kita
menyakiti dan mengotori ciptaanNYA itu, hati yang suci.
Maka
dari itu, cobalah kita benar-benar membuka mata hati dan pikiran kita, bahwa
kita ini adalah seorang manusia. Makhluk paling sempurna dari makhluk-makhluk
ciptaanNYA yang lain dengan perasaan dan pikiran yang lebih sempurna. Kita
sebagai khalifah di bumi indah ini dengan ditundukannya semua binatang dan
tumbuhan yang dengan ikhlasnya untuk memenuhi kubutuhan hidup kita. Maka tak sepatutnya
kita mendapat kata bahwa kita sama denga hewan atau bahkan lebih sempurna
mereka dari pada kita yang seorang manusia yang mengecam berbagai pendidikan
dari sebelum kita bicara sampai kita berjumpa anak cucu kita. Jadilah manusia
yang hakikatnya sebenar-benarnya manusia, bukan manusia yang mendapat predikat
menjadi manusia siluman karena kerusakan hati dan otak kita.

Komentar
Posting Komentar